POSTUR tubuhnya tinggi, sekitar 168 sentimeter. Badannya agak kurus, tapi tegap. Itu adalah gambaran sosok pengibar bendera saat detik-detik Proklamasi, di Gedung Agung, Minggu (17/8) lalu.Namanya Nareswari, pelajar di SMA N 3 Kota Jogja kelas 11. Ia menjadi salah seorang pelajar yang beruntung bisa menerima bendera dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X untuk mengibarkan bendera di Gedung Agung.Tapi, posisi sebagai pengibar bendera, ternyata tak datang begitu saja. Ia harus bekerja keras untuk mendapatkan posisi tersebut. Diantaranya menjalani karantina bersama dengan 38 pelajar anggota Pasukan Pengibar Bendera (Pakibraka) DIJ. “Tidak boleh menggunakan Hp. Harus dititipkan ke pendamping,” ujar Ais, sapaan akrabnya, usai beramah-tamah dengan Gubernur DIJ di Bangsal Kepatihan.
Ais-panggilan akrabnya, mengungkapkan, selama karantina di Pondok Pemuda, Ambarbinangun, Kasihan, Bantul itu, penggunaan handphone atau ponsel dibatasi. “Ada waktu-waktu yang diperbolehkan. Misalnya saat istirahat,” tandasnya.Tak hanya ponsel yang dilarang. Sekadar bertemu dengan kedua orang tua saja, juga dilarang. Ini berlangsung sejak 2 Agustus silam hingga 17 Agustus. Sempat resah ketika harus tanpa Hp, namun setelah beberapa hari di karantina, akhirnya menjadi biasa. “Mungkin karena banyak teman, sehingga bisa menghilangkan kesepian,” akunya.Selain itu, selama menjalani karantina, banyak kegiatan yang harus dijalani. “Aktivitasnya sejak mulai pukul 4.00 pagi. Mulai dari ibadah, olahraga pagi, istirahat, kemudian latihan baris-berbaris,” paparnya.
Meski demikian, ia mengaku beruntung bisa mengikuti Bhayangkara Padamana di sekolah. Yaitu anggota Paskibraka harus mengikuti pleton inti (tonti) di sekolahnya. Ia menjalani seleksi ini saat awal bersekolah di SMA N 3. Baru, kemudian baru ikut seleksi untuk tingkat sekolah. “Setelah itu, seleksi lagi ke tingkat kota,” ujarnya.Modal awal mengikuti tonti di tingkat sekolah ini, menurut Ais, turut membantu dirinya terbiasa saat seleksi. Sebab, selama tonti di sekolah, sama seperti saat seleksi. Gadis yang lahir 21 Juni 1998 ini menceritakan, saat seleksi untuk menjadi pengibar bendera, sempat ragu. Tapi, hal tersebut bisa terpupus seiring latihan yang ia jalani setiap hari. Khusus untuk dirinya, memang ada latihan khusus. “Selama latihan, berlatih membawa baki. Karena baki inilah, semua menjadi lancar hingga hari-H,” tuturnya sedikit berkelakar.(*/jko)