MAGELANG – Jabat tangan dan saling memaafkan mewarnai persidangan kasus dugaan pelemparan bom Molotov di Rumah Wartawan Jawa Pos Radar Jogja Frietqi Suryawan. Pihak korban yang biasa disapa Demang bersalaman dan berpelukan dengan tiga terdakwa. Moment menarik tersebut, disaksikan Majelis Hakim yang diketuai Irwan Effendi SH MH, Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan pengunjung sidang. Perdamaian tersebut atas prakarsa Hakim Anggota Saut Erwin Herman A. Munthe SH MH yang menanyakan pada Demang, yang dalam persidangan tersebut diajukan sebagai saksi oleh JPU, soal permintaan maaf.”Kalau para terdakwa meminta maaf, apakah saksi akan memaafkan,” tanya hakim Saut Erwin, kemarin (21/8).Demang yang saat itu duduk di kursi saksi mengiyakan.”Satu minggu setelah kejadian pengeboman, saya menggelar doa bersama yang dipimpin KH Said Asrori (Wakil Ketua PW NU Jateng. Red). Saat itu, saya sudah menyatakan memaafkan para pelaku pengeboman, meski belum tertangkap. Jadi soal memaafkan, saya tidak ada masalah. Apalagi saya tidak pernah ada urusan dengan mereka (para pelaku, Red),” papar Demang.Ketiga terdakwa, Choirun Naim, Heri Utama, dan Yordan alias Yoyo diminta minta maaf oleh hakim.”Silahkan datangi saksi, minta maaf,” perintah Hakim Saut Erwin.Ketiganya mendatangi Demang dan meminta maaf. Terdakwa Heri Utama dan Naim bahkan sampai memeluk Demang yang menjadi korban.”Maaf, saya tidak tahu kalau itu rumah situ,” bisik Heri Utama pada Demang.
Di hadapan hakim, Demang mengatakan tidak mengenal ketiga terdakwa. Ia menegaskan, tidak memiliki perkara sebelumnya sampai terjadi pelemparan bom molotov di kediamannya di Kampung Jagoan III, Jurangombo Utara, Magelang Selatan.”Saya tidak mengenal mereka dan tidak tahu kenapa mereka melempar bom ke rumah saya. Tapi, saya merasa kasus ini ada kaitannya dengan profesi saya sebagai jurnalis yang menulis seputar pembangunan Pasar Rejowinangun,” ungkap Demang menjawab pertanyaan hakim.Di persidangan, Demang menjelaskan kejadian tersebut. Ia mengaku, mendengar suara ledakan di depan rumah dan suara teriakan tetangga serta melihat ada titik api persis di jendela depan. Ia juga melihat ada dua orang berboncengan naik motor lari ke arah timur.”Karena panik, saya tidak melihat siapa mereka. Lalu saya fokus memadamkan api bersama saksi Sulami dan Agus, penjual angkringan depan rumah,” paparnya.
Ketua Majelis Hakim Saut Irwan Effendi sempat menanyakan pemberitaan yang ditulis saksi seputar Pasar Rejowinangun. Termasuk menanyakan soal peringatan yang pernah diterima saksi sebelum terjadinya pelembaran bom molotov tersebut.”Saya membuat berita yang rawan konflik, seperti Pasar Rejowinangun. Sebagai jurnalis, saya menjalankan fungsi kontrol atas lamanya pembangunan pasar itu. Apalagi saat itu, pembangunan pasar tersebut saat ini menjadi penyelidikan pihak kejaksaan. Memang saya pernah mendapat kata-kata peringatan hati-hati dari seseorang sebelum kejadian ini,” ungkapnya.Demang menjawab pertanyaan JPU Aksa Dian Agung, bahwa di rumah yang dilempari bom molotov tersebut, ia tinggal bersama istri dan empat orang anaknya.”Saat pelemparan bom molotov, hanya saya yang terjaga. Lainnya sudah tertidur, karena kejadiannya dini hari sekitar pukul 02.00. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau saya terlambat memadamkan api, karena rumah saya banyak materi dari kayu,” paparnya.
Saksi kedua, Sulami mengaku melihat kobaran api di depan rumah korban (Demang, Red). Ia juga mendengar suara ledakan dan teriakan memanggil pelaku yang sudah lari. Dirinya melihat dua titik api. Yakni, di jendela depan dan sisi kanan rumah berdekatan dengan garasi mobil.”Saya tidak tahu ada orang yang lari, karena saya dan Pak Agus panik mencari air ikut memadamkan api,” urai Sulami.Saat ditanya Hakim Ketua, apa yang hendak disampaikan, Demang meminta pengusutan kasus tersebut hingga aktor intelektual. Karena, banyaknya kejanggalan dari kasus yang sudah diungkap polisi.”Ya itu, tergantung dari penyidik dari polisi,” tegas Hakim Irwan Effendi.(ady/hes)