MUNGKID – Sembari menunggu pengumuman hasil sidang perselisihan hasil Pilpres 2014 di Makamah Konstitusi (MK), para pendukung Capres Prabowo-Hatta menggelar aksi di Kecamatan Muntilan. Ada 50 orang turun ke jalan. Mereka berteriak dan menyuarakan agar pemilihan presiden (pilpres) harus lepas dari intervensi asing. Massa juga sempat melempar dan mencoba merusak salah satu rumah milik pendukung Jokowi-JK di Jalan Pemuda, Muntilan.Mereka yang mayoritas mengenakan seragam warna putih itu berkumpul di depan Kelenteng Hok An Kiong. Sembari berorasi, massa juga membakar ban bekas di pertigaan depan kelenteng. Usai berorasi sekitar 20 menit, mereka menuju Jalan Magelang-Jogjakarta via depan Polsek Muntilan.Massa bergerak kembali ke Jalan Pemuda. Tepatnya di depan Salon Hellen, Jalan Pemuda Nomor 91, massa berhenti dan berorasi di pinggir jalan. Mereka berhenti di salah satu rumah pendukung Jokowi-JK, Hon Lip dan membawa beberapa spanduk. Spanduk yang dibentangkan bertuliskan “Gerakan rakyat Magelang untuk Indonesia tolak intervensi asing aseng !!”, “Arti 69 tahun merdeka adalah curang berjamaah ???”, “Selamatkan Indonesia.Gerakan rakyat Magelang untuk Indonesia”, dan “69 tahun Merdeka bubarkan KPU antek aseng”. “Pada pilpres lalu, kami merupakan pendukung Prabowo-Hatta. Namun aksi ini lepas dari masalah pilpres. Kami akan tunduk dengan keputusan MK. Siapapun presidennya, akan diterima dan dukung,” tegas salah satu orator, Teguh Dwiriyadi kemarin (21/8).
Saat ada yang berorasi, tiba-tiba di antara kerumunan orang ada yang melemparkan pecahan genteng ke arah rumah itu. Bahkan, satu peserta aksi yang berupaya merusak papan nama salon tersebut. Namun, massa berhasil ditenangkan, sebelum bertindak liar. “Aksi ini merupakan aksi keprihatinan terkait nasionalisme. Kami melawan penjajahan modern, yang mana terlepas dari kontestasi pilpres. Entah Jokowi maupun Prabowo, bahwa kami mencoba melihat lebih dalam. Nilai NKRI dan martabat bangsa Indonesia tidak bisa dibeli,” tegas Koordinator aksi Anang Immamudin.Menurutnya, aksi ini dalam rangka mengawal NKRI dan menolak segala bentuk intervensi asing.Pihaknya menilai, setelah 69 tahun kemerdekaanIndonesia, darah, jiwa, dan raga dikhianati antek-antek asing, aseng, dan komunis. Jadi, saatnyasemua warga negara menunjukkan kecintaan pada Republik Indonesia. “Rakyat Magelang berdiri di depan menolak segala intervensi asing, aseng, dan komunis. Saatnya bergabung bersama,tegakkan darah juang kemerdekaan. Saatnya tunjukkan, bahwa rakyat Magelang cinta damai, tetapi bukan berarti lemah terhadap bentuk kezaliman,” tegasnya.
Peserta aksi berasal dari berbagai komponen pemuda dan berlatarbelakang beda. Mereka menyatakan, dalam memutuskan perkara pilpres, MK harus berani. MK dituntut berbicara yang benar.Sementara itu, Kapolsek Muntilan AKP Gede Mahardika bersama puluhan anggotanya mengawal aksi tersebut. Mereka dibantu puluhan anggota kepolisian dari Polres Magelang dan TNI dari Kodim 0705 Magelang.”Kami akan terus jaga kondusivitas daerah (Muntilan, Red). Baik sebelum maupun pascapengumuman MK. Salah satu di antaranya dengan rutinpatroli menggunakan mobil dengan seragam dan senjata lengkap,” tegasnya.(ady/hes)