JOGJA – Manajemen perbankan syariah harus mulai menyelaraskan operasional bank. Ini agar lebih berorientasi pada keberkahan, bukan hanya menonjolkan profit. Sebab bila hanya mengandalkan profit, dalam jangka pendek produk yang ditawarkan menjadi kurang kompetitif. Bahkan rentan ditinggalkan oleh nasabah.Itulah yang ditekankan oleh Pendiri Quranomucs Institute Luthfi Hamidi pada acara diskusi Islamic Finance Club. Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Wilayah Asosiasi Bank Syariah Indonesia Jogjakarta yang didukung oleh Masyarakat Ekonomi Syariah, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, Jumat (22/8) kemarin.
Menurut Luthfi mengejar profit memang menjadi keniscayaan. Namun demikian yang harus ditekankan bahwa profit hanyalah satu dari lima pilar yang menjadi tujuan penyerapaan syariah. Dia menyebutkan kasus penolakan bank syariah yang terjadi di Bali beberapa waktu lalu, sedikit banyak mengindikasikan perlunya manajemen bank syariah yang lebih proaktif dan bermanfaat kepada masyarakat. Bank syariah harus lebih banyak menyisihkan dana maupun keterlibatan dalam menjalankan peran dan tanggung jawab sosial. Menurutnya agar nilai syariah semakin membumi dalam operasional perbankan, sudah waktunya industri syariah mulai mengurangi ketergantungan pada pembiayaan berbasis utang. “Inti dari transaksi perbankan syariah adalah bagi hasil (profit sharing). Hanya saja cakupannya masih terbatas. Kedepan perlu didorong perbankan syariah bermigrasi kepada pembiayaan yang mendekati pada penyertaan modal dan instrumen bagi hasil,” terangnya.Saat ini, sambungnya, industri perbankan syariah global diperkirakan mencapai USD 2 triliun. Pertumbuhannya terus mengesankan dan menjadikan industri baru ini menjadi magnet dan mendapatkan tempat dalam arus industri global.
Pesatnya pertumbuhan perbankan syariah ini juga diakui oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santoso. Diungkapkan pada Mei 2005 silam hanya ada 22 unit BPR dan bank syariah. Pada kuartal kedua tahun ini menjadi 34 bank umum syariah dan 163 BPRsyariah dengan tenaga kerja yang terlibat mencapai 42 ribu.Hanya saja, kendala yang masih dihadapi perbankan syariah terkait dengan infrastruktur dan sumber daya manusia. Infrastruktur yang menjadi kendala seperti persoalan jaringan kantor. “Untuk persoalan SDM disebabkan masih minimnya lulusan profesi yang memiliki kompetensi dalam keuangan syariah,” tutupnya. (bhn/ila)