BANTUL – Keterbatasan serta semakin melonjaknya harga lahan di Jogjakarta membuat sejumlah developer lebih memilih mengembangkan pemukiman vertikal (vertical housing). Meski begitu, salah satu developer kakap Ciputra mengaku belum tertarik mengembangkan vertical housing di Jogjakarta.Hal tersebut disampaikan oleh Associate Director Ciputra Agung Krisprimandoyo disela-sela acara syukuran kantor pemasaran baru di Jalan Wates Km 9, Kamis (21/8) lalu. Agung mengatakan pihaknya masih fokus pada pengembangan perumahan untuk memenuhi kebutuhan rumah di Jogjakarta. “Kami belum berani masuk ke bisnis vertical housing seperti apartemen di Jogjakarta. Pengembangan vertical housing masih fokus untuk kawasan padat seperti Jakarta dan Surabaya,” jelas Agung.
Menurut Agung vertical housing belum sepenuhnya menjadi gaya hidup masyarakat Jogjakarta. Sebab, masyarakat Jogjakarta masih memegang budaya kuat dimana tempat tinggal harus menyentuh tanah. Dia juga melihat bisnis apartemen di kota gudeg ini belum bisa dikatakan berhasil. Sebab di Jogjakarta yang mayoritas terdiri dari pelajar dan mahasiswa, keberadaan apartemen bersaing ketat dengan usaha indekos. Sebagai kota pelajar, apartemen yang ideal memang dibangun di dekat kampus. “Yang laris diburu di Jogjakarta kan bukan apartemen tetapi kondotel. Itupun pembelinya kebanyakan dari luar sebagai investasi karena disewakan lagi,” kata Agung.
Agung menjelaskan Ciputra sendiri lebih fokus menyediakan perumahan yang dilengkapi dengan sarana hiburan. Salah satunya ialah CitraGrand Mutiara yang berada di Jalan Wates Km 9. Saat ini penjualan perumahan di CitraGrand Mutiara telah mencapai 70 persen. “Masih ada 30 persen lagi yang belum terjual. Kami tidak ingin mengobral unit rumah yang tersisa, sebab memang kami sesuaikan dengan harga karena kualitas yang kami miliki,” terang Agung.Sementara itu, sebelumnya Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (REI) DIJ Remigius Edy Waluyo mengatakan di Jogjakarta sendiri terutama Jogja dan Sleman, pengembangan vertical housing menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pemukiman. Apalagi jumlah penduduk dan kepadatan yang ada di Jogja sudah dapat dijadikan acuan untuk pengembangan vertical housing. “Karena keterbatasan luas lahan mau tidak mau diperlakukan vertical housing. Baik yang bersifat sewa maupun kepemilikan pribadi. Namun untuk sewa sudah menjadi ranah dari pemerintah melalui Kemenpera. Untuk pribadi baru ada di ranah swasta,” jelasnya. (bhn/ila)