BERKAT ketelatenannya ini, Yulia panggilan akrabnya mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Ir Mohammad Nuh, DEA, 16 Agustus lalu di Jakarta. Bagi sosok yang sederhana dan murah senyum ini, kecintaan terhadap dunia pendidikan harus total. Baginya, pendidikan sangat penting. Terutama bagi generasi muda penerus bangsa.Untuk itu, Yuli-sapaan akrabnya, selalu menerapkan metode pendidikan yang menyenangkan kepada sekolah-sekolah tingkat pertama di bawah pembinaan dan pengawasannya. Salah satunya adalah dengan membuat siswa mau belajar dengan cara yang menyenangkan. “Saat kita bangun suasana yang menyenangkan, siswa akan lebih tertarik. Secara psikologis, ilmu yang kita sampaikan pun akan lebih mudah ditangkap,” katanya ditemui di rumahnya Beran Kidul, Tridadi, Sleman kemarin (22/8).
Sebelum menyentuh para siswa, baginya yang terpenting adalah bagaimana metode guru mengajar. Guru kerap diidentikan sebagai tenaga pengajar ilmu pengetahuan. Padahal menurutnya lebih dari itu. Guru harus menjadi contoh dan panutan para siswanya.Selain itu untuk menjadi guru yang baik, evaluasi pembelajaran sangatlah penting. Hal inilah yang kerap dilakukannya terhadap sekolah-sekolah dibawah pengawasannya. Tujuan evaluasi ini untuk melihat peta pengetahuan para siswa. Saat seorang siswa belum berhasil dalam setiap pembelajaran, maka ini adalah tanggungjawab guru. Pendampingan secara intensif untuk mendekati batas minimal sangat penting agar siswa menjadi lebih paham. “Seorang guru jangan pernah menyerah untuk mengajari siswanya. Keberhasilan seorang guru itu tercermin dari siswanya. Sehingga jangan pernah tinggalkan siswa. Tetapi harus didampingi terus dengan metode-metode yang menyenangkan,” kata ibu dari Monica Sindy Heryuka dan Felisitas Syntia Herliandy ini.
Wanita kelahiran 10 April 1965 ini mengungkapkan, pada dasarnya setiap mata pelajaran terdapat ruang berekspresi. Melalui ruang inilah metode yang optimal dapat diterapkan kepada para siswa. Tentunya bertujuan untuk mendapatkan hasil yang baik bagi siswa.Predikat pengawas SMP berprestari tingkat nasional 2014 diperoleh melalui jalan yang panjang. Predikat pemenang pertama ini didapatkan setelah suami dari T Wuris Heri Yunarta, SPd, MPd ini mengajukan karya deskriptifnya.Setelah lolos di tingkat Kabupaten Sleman dan tingkat DIJ, karyanya juga menarik perhatian tingkat nasional. Dia tidak hanya melakukan pengawasan, tetapi juga pendampingan. “Pengalaman bagaimana mendampingi sekolah agar akreditasi meningkat. Salah satunya adalah menemani SMPN 1 Sleman di tahun 2012 yang kala itu masih berbasis RSBI. Metode kita ubah agar tingkat kepahaman siswa meningkat. Alhasil dalam satu tahun yang awalnya instrument masih C meningkat menjadi predikat B +,” katanya.
Yulia pun berharap agar guru berani keluar dari zona nyaman mereka. Yakni mau melihat keluar untuk mendapatkan metode pembelajaran yang pas. Selama ini yang kerap terjadi adalah monoton dan terus melakukan pengulangan.Padahal pengulangan ini menurutnya kurang efektif bagi perkembangan siswa. Guru harus mau terbuka pada sebuah pendapat dan perubahan. Apalagi saat ini menurutnya kurikulum pengajaran terus berubah. “Mengikuti dinamika dan tidak hanya bertahan di satu titik. Pada tahun 2.000 pernah melakukan penelitian tentang reflecting di mana siswa adalah cerminan gurunya. Saat siswa salah, guru jangan langsung nuding. Tapi pelajari apakah metode yang diterapkan sudah pas dan optimal,” katanya.(*/din)