PURWOREJO – Rasa senang bercampur duka. Inilah yang dialami rombongan seniman Kabupaten Purworejo saat mengalami kecelakaan di tanjakan Margoyoso, perbatasan Kabupaten Purworejo-Magelang. Lima belas seniman harus dilarikan ke RSUD Saras Husada Purworejo, 10 rawat inap dan selebihnya menjalani rawat jalan.Di saat sebagian rombongan kesenian meringis kesakitan, kabar gembira sedikit menyaput kepiluan. Mereka berhasil menorehkan prestasi membanggakan, berhasil menyabet juara II dalam Parade Seni Budaya Jateng 2014.”Dalam parade itu, juara I diraih Kabupaten Blora, juara III Kabupaten Banyumas. Juara II berhasil kami raih, tentu sebuah prestasi membanggakan bagi kami kendati masih dalam kondisi seperti ini,” ungkap R Purnomo Koreografer Tim Kesenian Kabupaten Purworejo dalam Parade Seni Budaya Jateng 2014, Sabtu (23/08).
Purnomo menjelaskan, tim kesenian Purworejo dalam even itu membawakan tari kreasi baru berjudul Gugur Gunung. Puluhan seniman menari menggunakan kostum dari limbah rumah tangga. Tari kreasi baru itu bermakna mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungannya. “Diawali dari lingkungan rumah, lalu meluas ke masyarakat,” jelasnya.Tim Purworejo melibatkan seniman grup kuda kepang Turonggo Seto Desa Jenar Lor Purwodadi, 30 pelajar SMP 6 Purworejo dan Sanggar Paguyuban Seni Bagelen (Paseban). “Tim ini gabungan, kendati belum lama disiapkan, namun sudah bisa memberikan warna dan mengharumkan Purworejo,” imbuhnya di salah satu sudut RSUD Saras Husada Purworejo.
Purnomo mengatakan, kecelakaan yang menimpa sebagian anggota tim tidak ada hubungannya dengan parade seni. “Dua kejadian yang beda, tetapi apa pun musibah yang sedang dihadapi, kami syukuri saja dan keberhasilan di parade itu sangat membanggakan kami,” ucapnya.Seperti diketahui, truk pengangkut rombongan seniman Purworejo terlibat kecelakaan di daerah Margoyoso Sabtu (23/8) pukul 03.30. Sebanyak 12 seniman serta dua awak truk gandeng luka-luka dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Saras Husada Purworejo.Kronologis kejadian bermula ketika rombongan dalam perjalanan pulang mengikuti Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2014 di Semarang mewakili Kabupaten Purworejo. Tiga orang duduk di kabin, sedangkan sembilan lainnya berada di dalam bak truk dengan atap terpal menjaga properti pentas dari goncangan.Setiba di lokasi kejadian, truk dengan nomor polisi AA 1758 EC yang dikemudikan Yayan Rahmat, 28, warga Singkil Kulon, RT 03 RW 01 Kecamatan Ngombol diseruduk truk gandeng di jalan dari belakang oleh truk bernomor polisi B 9529 GW bermuatan pemanis buatan dan tambang plastik seberat 20 ton di turunan Margoyoso.
Truk pengangkut bahan pemanis itu dikemudikan Endjam, 50, warga Larangan RT 01 RW 03, Harjamukti, Cirebon yang diduga kuat mengalami rem blong. Truk dari Semarang yang hendak bongkar muatan di Jawa Barat tersebut menabrak bagian belakang truk berisi seniman. Truk seniman terdorong dan terjun dalam parit sedalam kurang lebih dua meter. “Kami kaget, tiba-tiba truk terdorong. Lalu truk guling dan properti pentas menimpa kami,” ucap Zuletri Susanto, 20, salah satu anggota seniman korban kecelakaan, warga Keposong RT 06 RW 01, Desa Kalirejo, Kecamatan Bagelen.Sang sopir, Yayan Rahmat, masih sempat mengendalikan kemudinya dan berhasil membanting setir ke kiri. Kendaraan itu berhenti setelah menabrak tugu perbatasan Kabupaten Purworejo – Magelang. Sementara truk gandeng hancur lebur menabrak tugu batas kabupaten Purworejo.”Kami berangkat dari Semarang pukul 12.00. Sesampai di turunan Mergoyoso truk seperti kencang sendiri akibat terdorong dari belakang, kecepatan saat itu sekitar 50 km/jam. Kami masuk ke dalam parit setelah saya berhasil membanting setir ke kiri,” terang sang sopir yang mengalami luka di dada dan tangan kanannya itu. Insiden itu mengundnag perhatian Pemkab Purworejo. Sekda Purworejo Tri Handoyo didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muh Wuryanto, Kepala Kesbangpolinmas Gantot Seno Aji, dan Sngko Setiyarso Widodo nampak menjenguk para korban kecelakaan.”Semua korban yang memiliki kartu jaminan silakan digunakan, jika ada sisa biaya yang harus dilunasi, pemkab yang akan menanggungnya. Saya minta semua sabar ikhlas dan tawakal,” ujar Wuryantoro. (tom/laz)