LAKI-LAKI paro baya kelahiran Rembang 17 Agustus 1968 ini dikenal dengan ide-idenya. Beberapa kreativitasnya sudah bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya di TBM Mata Aksara. Mulai dari rumah pohon, rak buku, kebun praktik dan decomposer pupuk adalah buah ketekunan dan kreativitas Mbah Bad. Semua itu merupakan hasil dari membaca. Setiap malam ia rutin browsing di internet untuk mencari tahu lebih dalam tentang apa yang ada dalam pikirannya. “Semua yang saya dalami, merupakan hasil dari membaca. Dan pengalaman sebagai anak petani, saya menjadi tahu bagaimana susahnya jika harga pupuk mahal,” katanya .
Berawal dari situ, ia mulai penasaran dan ingin menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi petani, khususnya untuk menyikapi harga pupuk yang makin hari makin mahal harganya.Yang pertama dalam pikirannya, ia harus mencari referensi. Sasarannya adalah bahan-bahan organi, sebab menurutnya bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia, kandungan unsur haranya lebih dari satu. Dari situ, Mbah Bad mulai mencoba membuat POC. “Beberapa kali mencoba, selalu gagal,” katanya.Namun Mbah Bad tetap semangat untuk selalu melakukan percobaan, hingga akhirnya mendapatkan komposisi terbaik menjadi POC.
Kelebihan dari POC, selain bahan bakunya murah dan mudah didapat, juga dapat secara cepat mengatasi defisiensi hara, serta mampu menyediakan hara secara cepat. Menurutnya, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman, meski digunakan sesering mungkin. “Salah satu yang awal kami dampingi, adalah kebun salak milik masyarakat Dusun Nglebeng. Hingga sekarang mereka terus membuat POC sendiri dan digunakannya,” katanya.Dari hasil uji coba dan pendampingan tersebut, hasil panennya lebih banyak dan berkualitas tinggi. “Hasilnya memang berbeda, lebih banyak dan berisi,” ujar Mbah Bad.Dijelaskan, dahulu saat belum menggunakan POC, hasil panen hanya dilakukan 1 atau 2 kali dalam setahun, namun saat ini intensitas berbuahnya lebih banyak dengan hasil buah yang labih baik.
Setelah hasilnya diakui banyak masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar kampungnya, Mbah Bad termotivasi untuk membawa manfaat bagi masyarakat yang lebih luas. Di bawah naungan TBM Mata Aksara, Mbah Bad berhasil merangkul elemen masyarakat lainnya, seperti mahasiswa, masyarakat sekitar dan kelompok-kelompok tani di berbagai wilayah. Saat ini, tekadnya adalah memberikan pendampingan gratis membuat pupuk organik cair, kompos, maupun perbanyakan EM (efektif microorganism, missal EM4, MOL) kepada para petani. “Saya berkeinginan sedulur tani bisa membuat POC atau kompos secara mandiri. tidak tergantung dengan pupuk dari pabrik, dari toko, apalagi pupuk kimia,” ujar Mbah Bad.(*/jko)