SLEMAN – Para pengendara kendaraan bermotor mulai jenuh saat harus melintas di kawasan flyover Jombor. Keberadaan bangunan jalan layang yang seharusnya untuk mengurai kemacetan lalu lintas belum begitu terasa manfaatnya. Bagi pengguna jalan dari arah Magelang menuju Ring Road Utara jelas merasakannya. Terlepas masih adanya persoalan pembebasan lahan antara pemerintah dengan sebagian warga, keberadaan flyover saat ini dinilai cukup mengganggu arus lalu lintas dari utara. “Ini macetnya mau sampai kapan?” tanya Pranowo,29, sales rokok yang setiap hari dua kali melintasi kawasan Jombor.Penumpukan kendaraan di utara flyover di Jalan Magelang bisa sampai ratusan meter, tergantung volume kendaraan. Terkadang, ekor kemacetan hampir mendekati Simpang Empat Pasar Mlati (Makam Wahidin Sudirohusodo, Red). Kelancaran arus di ruas flyover juga kerap terhenti setelah kendaraan keluar dari turunan sampai di Jalan Magelang. Tidak jarang kepadatan kendaraan melebar hingga ruas jalan sisi timur. Akibatnya, arus dari arah flyover juga macet. “Yang jelas traffic di bawah flyover tetap semrawut karena lampu pengatur lalu lintas nggak fungsi,” keluhnya.
Pemkab Sleman tidak bisa berbuat banyak mengatasi masalah lalu lintas di kawasan tersebut. Itu karena menjadi kewenangan Pemprov DIJ yang berkoordinasi dengan Ditlantas Polda setempat.PPK Jalan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum Santoso juga tidak mampu mengatasi masalah itu karena memang bukan kewenangannya. “Kami hanya bertanggungjawab pada pengerjaan sipil proyek flyover dan underpass,” ujarnya.Mengenai jalan ekstensi di sisi timur (bawah, Red) flyover yang menjadi sumber kemacetan lalu lintas, Santoso menunggu keputusan pemerintah. Hingga kemarin tetap belum ada kesepakatan antara pemprov dan warga pemilik lahan yang terkena proyek pelebaran jalan ekstensi tentang harga ganti rugi.(yog/din)