JOGJA – Kelurahan Prenggan, Kotagede, Jogja dipilih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu lokasi percontohan pelaksanaan budaya antikorupsi berbasis keluarga. Dipilihnya Prenggan, karena masyarakat di kelurahan tersebut masih menjaga dan memelihara berbagai kearifan lokal. Modal sosial tersebut, dinilai KPK tepat untuk menangkal virus korupsi yang makin akut.”Nilai-nilai kejujuran itu harus ditanamkan sejak dini. Semua itu harus disemai dan dimulai dari keluarga,” ungkap Wakil Ketua KPK Busyro Muqqodas saat memimpin Sosialisasi Pencanangan Budaya Antikorupsi Berbasis Keluarga di Pendopo Kecamatan Kotagede, Jumat (22/8) malam.
Busyro mengaku salut dan memberikan apresiasi dengan kearifan lokal yang berkembang di Prenggan. Ia juga merasa bangga karena kelurahan tersebut melahirkan banyak tokoh besar. Salah satunya mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja Prof Kahar Muzakir.Secara terus terang Busyro mengatakan, sasaran dari program itu adalah orang tua. Mereka diharapkan dapat menciptakan budaya jujur dan antikorupsi di tengah keluarganya. Dengan demikian, keluarga tersebut menjadi contoh bagi anak-anaknya. “Program ini dalam rangka nyelengi (menabung) kebaikan. Manusia yang baik adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Siapa menanam, maka dialah yang akan memanen. Falfasah Jawa mengatakan ngunduh wohing pakerti (memanen hasil perbuatan sendiri),” tutur pria yang tinggal di Nitikan, Umbulharjo, Jogja.
Peserta sosialisasi itu didominasi ibu-ibu rumah tangga. Sejumlah mahasiswa yang terlibat sebagai relawan juga hadir. Mereka tampak antusias mengikuti sosialiasi tersebut. Dalam acara tersebut, KPK juga menggandeng sejumlah figur lokal asal Kotagede. Di antaranya Wali Kota Jogja 2001-2011 Herry Zudianto, anggota DPRD DIJ Arif “Inung” Noor Hartanto, dan anggota DPRD DIJ Periode 1999-2004 Bachrun Nawawi. Dari jajaran pemerintah tampak Camat Kotagede Nur Hidayat dan Lurah Prenggan Supiyatun.Inung yang berbicara setelah Busyro menilai, program KPK itu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Kotagede. Dampak dari kegiatan tersebut diyakini bukan hanya untuk Kota Jogja saja. “Manfaatnya buat republik ini kelak di kemudian hari,” ungkap pria yang pernah menjabat ketua DPRD Kota Jogja 2004-2009 ini. Sebagai wakil rakyat, Inung berencana menyinergikan kegiatan KPK itu dengan program penguatan keistimewaan DIJ. “Nanti kami linierkan dengan kegiatan yang dibiayai dana keistimewaan dalam rangka mengembangkan keluarga dengan nilai-nilai adiluhung gemi nastiti ngati-ati,” ungkapnya.Herry Zudianto juga punya pandangan senada. Ia sepakat sikap jujur harus dimulai sejak muda. Bahkan, saat anak muda tengah pacaran. “Pacaran itu juga harus membiasakan dan membudayakan kejujuran. Kalau perlu membuat pakta integritas kejujuran,” ungkap HZ sapaan akrabnya.
Suami Dyah Suminar itu lantas memberikan ilustrasi terkait perbedaan peradaban tertib lalu lintas di Indonesia dengan beberapa negara maju. “Kalau di negara maju budaya tertib lalu lintas telah terjaga. Di negara kita, sangat tergantung. Tergantung dengan siapa. Kalau dengan pacarnya, patuh. Lampu tanda merah ya berhenti. Kalau sedang sendiri melanggar,” sindirnya.HZ mengajak masyarakat Prenggan berpartisipasi aktif dalam program tersebut. Ia juga mengusulkan agar masyarakat Prenggan tak ragu menyapa warga, pemuka masyarakat, hingga pejabat seperti lurah dan camat dengan tambahan kata jujur. “Sebut saja Bu Lurah dan Pak Camat yang jujur. Kita harus bangga dengan nilai-nilai kejujuran. Sapaan itu akan memberikan dampak psikologis,” ungkapnya.Meski sekarang tinggal di Jalan Golo, HZ merupakan orang yang punya darah Kotagede. “Rumah saya di depan Masjid Perak. Elek-elek ngene iki isih keturunan Kotagede,” kelakarnya yang disambut geer. (mar/jko)