PEGAL seperti salah otot awalnya tidak disadari Dewi Ardika Sari dan hanya disadari sebagai bentuk kelelahan rutinitasnya. “Ternyata setelah di rontgen sudut kurvaku sudah 36 derajat,” ujar perempuan kelahiran Jogjakarta, 4 November 1985 ini.Satu tahun lalu, Dewi mendapati dirinya menderia skoliosis. Anjuran sang ibu untuk memeriksakan dirinya dia turuti. Karena sang ibu pun juga memiliki kelengkungan tulang belakang.Sejak mengetahui dirinya skoliosis, Dewi memilih terapi chiropractic untuk skoliosis. Karena menurutnya, memang harus ada aksi nyata agar tulang belakangnya bisa kembali imbang atau setidaknya tidak semakin buruk.
“Memilih chiropractic karena pertama tidak ada obat, jadi organ tubuh lain tidak terganggu dan tetap berjalan normal,” ujarnya yang juga memilih renang serta treadmill sebagai penunjang untuk penguatan otot.Terapi chiropractic dikenalnya lewat sang ibu yang memang sudah lebih dulu menggunakan terapi ini. Terapi alternatif untuk tulang belakang ini fokus melihat hubungan antara sistem saraf dengan semua sistem dalam tubuh, terutama persendian dan otot di sekitar tulang belakang. “Metodenya hanya menggunakan tangan, nanti langsung menuju pada titik yang akan diterapi, kalau aku bilang seperti dikrepek,” ujar perempuan yang bekerja di sebuah hotel berbintang lima di Jogja ini.
Setelah satu tahun terapi secara rutin, Dewi tetap menjaga batas-batas kemampuan tulang belakangnya. Meskipun sibuk beraktivitas, dirinya menghindari membawa beban berat apalagi di pundak dan memilih tidur diatas busa yang permukaannya stabil. “Aktivitas berjalan normal. Sejauh ini hasil terapinya terasa banget aku jadi jarang pijat, jarang sakit, karena terapi ini juga membuat daya tahan tubuh semakin stabil,” ujar Dewi. (dya/ila)