PLERET – Ada banyak cara untuk memeriahkan peringatan ke-69 kemerdekaan Republik Indonesia. Di antaranya adalah dengan menggelar turnamen sepak bola api. Ini yang terjadi di kampung Krajan, Jejeran, Wonokromo, Pleret, Sabtu malam lalu.Bertempat di halaman rumah seorang warga, sebanyak 12 tim turut ambil bagian dalam pertandingan yang membutuhkan keberanian dan nyali tinggi ini. Bagaimana tidak, empat orang dalam setiap tim harus menggiring, mengoper dan berebut bola dengan tim lawan. Tetapi bola yang digunakan tak seperti biasanya. Bola api namanya. Bola ini berasal dari kelapa tua atau yang sering disebut cumplung.
“Atau kelapa gabuk,” ucap panitia turnamen sepak bola api Eko Saputro. Pertandingan ini hampir sama dengan sepak bola pada umumnya. Mulai pergantian pemain, pelanggaran, hingga keberadaan wasit. Bedanya, terletak pada ukuran lapangan, bentuk mistar gawang, durasi, dan penghentian permainan jika api padam.”Untuk ukuran lapangan sebenarnya bebas. Yang kita gunakan sekitar 7 x 12 meter,” terangnya. Adapun mistar gawang terbuat dari peleg sepeda motor yang dipotong membentuk separuh lingkaran. Peleg juga dibalut kain, dan disiram dengan cairan khusus agar dapat terbakar api. Kemudian, masing-masing tim bermain selama 2 x 10 menit, diselingi waktu istirahat.Menurutnya, pertandingan juga akan dihentikan jika bola tak lagi menyalakan api. Agar dapat dibakar, bola disiram dengan bensin yang telah dicampur solar. Dulu, cairan yang digunakan adalah minyak tanah. Hanya saja, saat ini keberadaan minyak tanah sangat langka. Saking langkanya, kalau pun ada yang menjual harganya dipastikan sangat mahal.
Meski cukup berisiko, para pemain yang didominasi anak-anak ini justru tampak sangat asyik. Tak jarang, selain menggiring, dan mengoper, mereka juga menyundul bola.Apa masing-masing pemain punya kiat khusus sebelum bertanding agar tak cidera atau terbakar? Eko mengungkapkan, Krajan terkenal sebagai salah satu kampung pesantren. Biasanya, para pemain hanya berdoa terlebih dahulu sebelum bertanding.
Uniknya lagi, kalau pun ada pemain yang cidera mereka tak pernah menuntut kepada penyelenggara. Maklum, sepakbola api telah menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat setempat. Bahkan, setiap bulan puasa pemuda Krajan kerap menggelar pertandingan ini.”Kalau sekarang untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan. Selain sepakbola api juga masih banyak perlombaan lain,” urainya.
Hadiah yang disediakan panitia bagi tim yang keluar sebagai pemenang tak cukup besar. Hanya dua ekor itik. Itu pun hadiah tersebut dimasak dan dimakan seluruh pemain dari masing-masing tim.Hal itu karena penyelenggaraan pertandingan sepakbola api tak lain bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan di kalangan pemuda setempat. Selain itu, juga untuk menjaga tradisi yang berumur puluhan tahun ini. (zam/laz)