JOGJA – Impian masyarakat Kota Jogja untuk melihat tim kesayangannya (PSIM Jogja) mewakili Grup 5 di babak 16 besar, pupus sudah. Mengincar kemenangan di kandang agar dapat finis di peringkat dua besar Grup 5, Topas Pamungkas dkk justeru takluk 0-1 dari Persinga Ngawi di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU), kemarin (23/8).Kekalahan ini menyakitkan, mengingat di laga kemarin PSIM berstatus sebagai tuan rumah. Sekalipun bermain tidak di hadapan para pendukungnya, tetap saja status home team seharusnya dapat dimanfaatkan oleh para penggawa Laskar Mataram.
Sekelumit masalah memang membuat para pemain PSIM tidak fokus dalam menghadapi Laskar Alas Ketonggo (Julukan Persinga). Tuntutan gaji Bulan Agustus dari pemain PSIM memang sudah dipenuhi Ketua Umum (Ketum) Haryadi Suyuti (HS), namun sayang, HS belum bisa membantu PSIM membayarkan gaji dua bulan terakhir untuk pelatih dan ofisial.Hal tersebut ternyata membuat pemain menunjukkan rasa solidaritasnya pada pelatih dan ofisial. Hingga sekitar satu jam sebelum laga, para pemain masih melakukan aksi mogok. Untungnya, manajemen PSIM bisa meyakinkan pemain, sehingga mereka mau berangkat ke AAU.Faktanya, saat bertanding, pemain PSIM gagal menunjukkan performa terbaik. Di babak pertama, PSIM sangat sulit menciptakan peluang. Meski membaik pada babak kedua, PSIM tetap tak mampu mengkonversi beberapa peluang emas menjadi gol. Malapetaka pun datang untuk mereka pada injury time babak kedua.Tendangan bebas pemain Persinga Dwi Cahyono tak kuasa dibendung Ony. Gol tersebut membawa Persinga menang dan berhak mendampingi PSS Sleman di babak 16 besar.
Pelatih PSIM Seto Nurdiyantara mengakui kalau psikologis anak asuhnya tidak siap menjalani pertandingan. Akibatnya, terlihat dalam laga kemarin. Terutama pada babak pertama, dimana para penggawa PSIM seolah tanpa spirit.”Spirit anak-anak tidak terlalu baik. Psikologis mereka tidak siap menghadapi pertandingan. Akhirnya kami gagal mendominasi permainan dan harus kalah 0-1,” kata mantan gelandang nasional ini.Selain psikologis, PSIM lagi-lagi terlihat lemah saat menghadapi bola-bola mati. Ia berharap untuk musim depan, para pemain PSIM yang ada saat ini bisa banyak belajar.”Ini juga jadi pembelajaran untuk PSIM di musim depan. Siapa pun pelatihnya nanti, saya berharap dia dapat membuat tim ini lebih sempurna,” paparnya.
Direktur Operasional PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) yang juga merangkap manajer tim sementara Jarot Sri Kastawa menyatakan, hasil ini sudah maksimal untuk Laskar Mataram. Dengan didominasi pemain muda, nyatanya PSIM bisa mejadi penantang serius dalam perebutan tiket 16 besar.Di kubu Persinga, Asisten Pelatih Sigit Wicaksono bangga atas pencapaian Persinga lolos ke 16 besar. Ia optimistis dengan perjalanan Persinga, karena seluruh elemen di Ngawi mendukung penuhLaskar Alas Ketonggo berprestasi setinggi-tingginya di Divisi Utama.(nes/jko)