JOGJA – Pagelaran Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 19 terbukti mampu menghadirkan suasana yang segar. Selama tiga hari penyelenggaraan mulai Kamis (21/8) hingga Sabtu (23/8) kemarin mampu menggaet ribuan penonton. Ini terbukti dengan penuhnya Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) selama penyelenggaraan.Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru menyambut positif aksi para pengrawit. Menurutnya gamelan saat ini tidak hanya milik rakyat Indonesia. Ini terlihat dalam YGF 19 yang turut menampilkan pengrawit dari mancanegara. “Saat ini gamelan bisa dibilang sebagai kekayaan budaya global. Dimana seluruh bangsa mulai mempelajari gamelan. Untuk itu, kita sebagai pemilik kekayaan ini jangan mau kalah. Kita juga harus semangat dalam melestarikan peninggalan nenek moyang ini,” katanya dalam pembukaan YGF 19.
Bertajuk Belongs to Everyone, selama tiga hari YGF 19 diisi oleh para pecinta gamelan. Selain dari Bantul, Pacitan, Solo hadir pula dari Tiongkok, Meksiko dan Amerika Serikat. Masing-masing pengisi ini menampilkan ragam kekayaan musik gamelan.Tidak hanya mengemas secara klasik, tapi hadir dengan warna baru. Ini terbukti setiap penampil mampu menghadirkan warna gamelan yang cerah. Dimana mampu berkolaborasi dengan unsur musik modern.Kolaborasi ini justru memperkaya gamelan bukan menenggelamkannya. Inilah yang diungkapkan oleh Program Director Ari Wulu di sela-sela pementasan. Menurutnya gamelan harus mengikuti dinamika perubahan zaman. “Dinamika ini sangatlah penting untuk dipahami dan dipelajari agar gamelan tetap lestari. Terbukti tipikal penonton YGF pun berbeda setiap tahunnya. Tahun inipun merupakan grand design penyelenggaraan YGF di tahun-tahun sebelumnya,” kata Wulu, sapaannya.
Sementara itu, salah satu Pemerhati Gamelan Pardiman Djojonegoro senang melihat antusiasme para pemain dan penonton YGF 19. Karena mampu menghadirkan iklim dan nuansa yang selalu segar setiap tahunnya. Menurutnya gamelan merupakan produk budaya yang sangat penting. Bahkan secara spesifik dirinya menggambarkan gamelan merupakan alat musik yang murah senyum dan ramah. Dimana setiap orang bisa memainkan dan mendengarkan sambil lalu. “Gamelan juga sebagai alat silaturahmi antar warga. Buktinya saat memainkan semuanya berkumpul dalam sebuah pendopo atau tanah lapang. Selain itu sebagai produk budaya kita wajib menyengkuyung. Jangan sampai Jogja kota budaya hanya menjadi jargon saja,” katanya. (dwi/ila)