JOGJA – Karya-karya para seniman dalam pameran Nyaur Utang kembali dihadirkan ke publik Jogjakarta. Karya ini merupakan hasil pertemuan sejumlah seniman di Omah Petroek, Karangklethak, Harjobinangun, Pakem, Sleman 7 Agustus lalu.Kurator Pameran Kuss Indarto menjelaskan makna dari pameran ini berkaitan dengan janji yang merupakan utang yang wajib untuk dilunasi. Dalam pameran ini, karya yang dibicarakan tak jauh-jauh dari utang. Mulai dari sekadar janji kecil yang bisa dengan mudah diabaikan dan dihapuskan dari ingatan. Hingga janji yang harusnya ditepati.
Dalam kesempatan ini, Kuss Indarto menggambarkan janji seorang wakil rakyat. Para wakil rakyat dan pemimpin yang sebelumnya terpilih telah mengumbar janji-janji didepan masyarakat pemilihnya. Para wakil ini, menurutnya, berada dalam kondisi sadar saat melontarkan gagasan dan mimpi ke hadapan masyarakat. “Gagasan dan mimpi itu seolah-olah menjadi bagian dari kebersamaan untuk hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Namun sering kali semua itu betul-betul membekas menjadi utang yang terus diingat oleh masyarakat meski di sisi lain dengan gampang dihapus dari ingatan para politisi tersebut,” katanya belum lama ini (23/8).Dalam pameran ini pula Kuss Indarto mengajak pengunjung untuk berpikir. Sejauh mana mengartikan makna sebuah kata utang. Apakah memiliki makna untuk diperjuangkan dan ditebus atau mampu dinegosiasikan dan dikompromikan. “Tentunya utang menjadi kewajiban untuk dituntaskan dengan dilunasi. Urusan utang piutang nyaris terjadi dan dialami oleh semua orang dengan segala atributnya, lembaga dengan segenap visi-misinya bahkan negara,” katanya.
Pameran yang berlangsung hingga 31 Agustus di Bentara Budaya Jogjakarta ini menyajikan puluhan karya lukis maupun foto. Semua karya ini merepresentasikan tajuk yang diangkat sebagai tema pameran. Setiap seniman mampu mengungkapkan makna utang sesuai pengertian mereka.Dalam acara sebelumnya di Omah Petroek, selain digelar melukis bersama juga ada ritual nyaur utang Bayu Wardhana. Ini merupakan wujud aqiqah ketiga anaknya yang tertunda. Sebagai seniman bentuk syukur inipun dikemas dengan berbagai acara seni budaya. “Hasil melukis dan motret bersama saat itu, kini dihadirkan dan digelar untuk diapresiasi masyarakat,” kata Bayu. (dwi/ila)