MUNGKID – Tahun ini, Festival Lima Gunung (FLG) ke-13 digelar di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis. Sebanyak 13 kelompok kesenian tradisional dan kontemporer tampil selama dua hari bergantian, Sabtu (23/8) dan Minggu (24/8).Acara tahunan yang digelar mandiri tanpa sponsor dan donatur tersebut mengangkat tema “Topo ing Rame”. Di hari kedua (24/8), panitia menampilkan kelompok kesenian perwakilan lima gunung yang di Kabupaten Magelang. Masyarakat setempat maupun dari luar daerah ramai berkerumun memadati arena pertunjukan di halaman yang banyak ditumbuhi cengkih.
Pementasan diawali arak-arak sesaji kondo kencana (tangga kehidupan) dan beberapa kelompok kesenian. Seperti topeng ireng warangan, wayang serangga, dan lainnya. Arak- itu mengelilingi jalan lingkar dusun sejauh 1,5 km. Setelah sampai arena pertunjukan, ritual ala tradisi Jawa digelar.Ritual dengan sesaji bermacam-macam untuk minta Tuhan agar acara ini diberikan selamat. Warga berharap, lewat doanya, perekonomian dan bidang lainya bisa berjalan lancar. Sekelompok pelukis dari Borobudur mendapat jatah tampil perdana. Sekitar lima orang bersama-sama melukis di segitiga kanvas. Melalui gerakan-gerakan tak beraturan, para pelukis bergantian mewarnai segitiga kanvas yang berjumlah lima.
Lima kanvas berbentuk segitiga memiliki arti, setiap kanvas mewakili seniman di lima gunung yang mengitari Kabupaten Magelang. Mulai dari Gunung Andong, Sumbing, Merbabu, Menoreh, hingga Merapi. “Seni lukis ini mengekspresikan diri, mereka menggambar dengan tangan dan kaki. Ini menunjukan ekspresi jiwa dari apa yang ada pada kelompok pelukis Borobudur,” papar Supadi Hariyanto, salah satu presiden lima gunung.Usai penampilan dari para pelukis, dilanjutkan pemukulan gong oleh lima presiden lima gunung.Yaitu, Supadi Hariyanto dari Gunung Andong, Sumarnodari Sumbing, Sujono (Merapi), Riyadi Handoko (Merbabu), Pangadi (Sumbing), dan Timbul (Merbabu). Pemukulan gong bergantian menandakan hari itu (kemarin, Red) merupakan puncak acara FLG ke-13. Supadi Hariyanto menjelaskan, panitia tahun ini mengangkat tema “Topo ing Rame” (Bertapa di tengah keramaian, Red). Topo diartikan kegiatan bukan semedi. Tapi untuk manusia yang memberikan pertolongan, kesenangan terhadap sesama. “Manusia tidak menginginkan balas jasa ketika memberikan pertolongan pada orang lain. Kami dituntut selalu memberikan kedamaian terhadap sesama,” jelasnya.
Pada acara itu, ada 31 pementasan selama dua hari, mulai siang hingga malam hari. Penyelenggara festival tahunan ini adalah para seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung (KLG). Para penyaji pementasan tidak hanya kelompok-kelompok seniman petani dalam komunitas tersebut. Akan tetapi juga grup seniman maupun perorangan yang selama ini menjalin relasi dengan KLG. “Mereka dari Magelang maupun beberapa kota lain. Seperti Yogyakarta, Solo, Kendal, Surabaya, Kediri, Cirebon,” kata Ketua Seksi Publikasi dan Dokumentasi Panitia FLG XIII Arie Kusuma.Acara tersebut juga dimanfaatkan untuk peluncuran buku kumpulan tulisan soal Komunitas Lima Gunung berjudul Sanak Kadang. Buku itu merupakan catatan Hari Atmoko, jurnalis senior di Magelang.(ady/hes)