SAAT mengetahui gejala skoliosis, perlu tindakan atau tidak memang harus diperiksa. Bukan sesuatu yang bisa diputuskan sendiri. “Pada saat seseorang menyadari ada anggota keluarga yang mengalami kelengkungan yang tidak normal, sebaiknya segera diperiksakan,” saran Dokter Ortopedi, Detro Traumatologi, Konsultan Tulang Belakang RS Jogja International Hospital (JIH) dr Yudha Mathan Sakti SpOT (K) kemarin.Dirinya menjelaskan tulang belakang itu apabila dilihat dari depan atau secara medis disebut coronal, bentuknya lurus dan seimbang. Sebenarnya tulang belakang itu tidak lurus jika dilihat dari samping karena ada lekuknya, tetapi itu lekuk yang normal. Tetapi kalau dari depan terlihat ada yang bengkok, itu disebut skoliosis atau pembengkokan pada tulang belakang.
“Skoliosis itu diambil dari kata skolios yang artinya bengkok. Jadi ketika dilihat dari bidang depan yang harusnya lurus, dia ada pembengkokan dan skoliosis memang dominannya terjadi pada perempuan,” ujar dr Yudha.Ada tiga penyebab utama skoliosis. Pertama kelainan Kongenital atau sestuatu yang dibawa karena kelainan bentuk dari tulang belakang. Jadi dari awal lahir, tulangnya sudah bengkok. Itu disebut kelainan karena kongenital. Kedua, Skoliosisi Idiopatik. Ini yang paling sering ditemukan. Skoliosis Idiopatik diambil dari Idios yang berasal berasal dari kata Idiot atau tidak tahu dan Patic yakni Patologi atau kelainan.
Secara struktur tulang belakangnya normal tapi membengkok tanpa tahu penyebabnya. Kondisi ini 80 persen terjadi pada adolescent growth spurt atau usia perempuan dengan pertumbuhan secara cepat, biasanya usia 12 hingga 16 tahun. “Disinilah biasanya Skoliosis Idiopatik kelihatan, yang tadinya normal tapi pada saat dia tumbuh tinggi secara cepat kok jadi terlihat b engkok,” terangnya. Ketiga yakni Neuromuscular Scoliosisi. Skoliosis ini terjadi karena kelainan kontraksi pada otot, dimana otot tidak imbang, yang satu kontaksi yang satu lemas. Dirinya mengatakan dari seluruh populasi normal, kejadian yang menderita skoliosis mencapai dua persen. Dari jumlah tersebut, 10 persennya membutuhkan penanganan khusus. Sedangkan yang 90 persen tidak diapa-apakan, atau tidak dianggap sebagai masalah. “Namun harus tetap tahu batas-batasnya,” ungkapnya.
Sedangkan untuk terapinya sendiri, berkaitan dengan progresifitas. Secara prinsip, terapi skoliosis bertujuan untuk mencegah progresifitas kelengkungan dan memperbaiki agar tulang belakang kembali imbang. Cara penerapannya dengan 3O yakni observasi, orthosis (sejenis korset) dan operasi. “Skoliosis itu terapinya tidak perlu ditakutkan, karena hanya 10 persen yang butuh orthosis ataupun operasi,” ujar dr Yudha. (dya/ila)