BERTAJUK Ngobar Ngabir yang merupakan akronim dari Ngombe Bareng Lan Nggawe Bir Jawa berlangsung meriah. Dalam kesempatan ini, selain membuat, juga mengenalkan nilai historis dari minuman ini. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengetahui cerita di balik bir Jawa ini.”Sedikit yang tahu tentang cerita dan manfaat dari minuman ini. Padahal ini merupakan minuman kesenangan para raja Jogjakarta. Bahkan minuman ini merupakan ide Sri Sultan Hamengku Buwono VIII,” ungkap Ketua Kelompok 2 Finalis Dimjeng DIJ 2014 Dimas Ricco Survival.Dimas Ricco menceritakan, awalnya ide minuman ini karena rasa penasaran HB VIII. Pada waktu itu sang raja kerap melihat tentara Belanda minum bir untuk menghangatkan tubuh. Lalu dari sini timbul ide untuk membuat minuman yang sama, tapi dengan komposisi rempah-rempah.Tujuan dari minuman ini sama, yaitu untuk menghangatkan tubuh. Tapi manfaat dari minuman ini, menurut Dimas Ricco, sangatlah kaya. Di mana mampu menyehatkan tubuh tapi tidak memabukkan bagi yang meminumnya.”Ini karena sifatnya non-alkohol dan memiliki komposisi kekayaan rempah-rempah. Bentuknya memang mirip dengan bir karena ada buihnya,” kata Dimas Ricco.Dalam kesempatan ini para finalis Dimjeng DIJ 2014 ini juga menggandeng Indonesian Chef Association, Dodik Prakoso. Chef Dodik menjelaskan komposisi dari minuman berwarna cerah ini. Dia juga menjabarkan manfaat dari rempah-rempah yang digunakan.
Menurutnya, minuman ini sangatlah berbeda karena memiliki nilai tradisi. Bahkan bisa dibilang sebagai bentuk kekayaan budaya, buah dari kreativitas dan dapat menghasilkan kuliner khas Jogjakarta.”Jogjakarta itu sebenarnya sangat kaya akan wedang-wedangan. Mulai dari wedang jahe, wedang uwuh dan minuman tradisi lainnya. Untuk bir Jawa ini sangat baik dikonsumsi saat cuaca tidak menentu seperti saat ini,” kata Chef Dodik.Bir Jawa ini, menurut Chef Dodik, memiliki dua jenis warna, kuning dan merah. Warna kuning didapatkan dari kayu secang yang diserut, sedangkan merah adalah kayu secang utuh. Meski berbeda keduanya tetap memiliki khasiat yang sama.Secara spesifik Chef Dodik menjelaskan komposisi dari bir Jawa. Mulai dari kayu secang, jahe, cengkeh, kapulogo, batang serai, jeruk nipis dan gula batu. Komposisi ini mirip dengan wedang uwuh. Hanya saja komposisi rempah dalam minuman ini lebih kaya.”Ini bukti bahwa kekayaan kita tidak hanya seni dan budaya tapi juga kuliner. Ini adalah salah satu bentuk heritage yang wajib dijaga,” tambahnya.
Antusiasme para warga untuk mengikuti kegiatan Finalis Dimjeng DIJ 2014 ini sangatlah tinggi. Terbukti mereka tidak beranjak saat Chef Dodik menjelaskan tata urutannya. Bahkan warga terlihat mendekat agar lebih jelas mengetahui komposisinya.Beberapa ibu-ibu pun tak ragu menanyakan langsung khasiat bahan baku. Sedangkan beberapa di antaranya terlihat sibuk mencatat bahan apa saja yang dibutuhkan. Tentunya ini sesuai yang diharapkan oleh para finalis Dimjeng DIJ 2014.”Target kita memang menyasar warga umum dan segala usia. Tujuannya agar pelestarian kekayaan kuliner ini bisa merata di semua wilayah DIJ. Respons pun bagus, terbukti warga Gadjah Wong Educational Park berencana mengembangkan bir Jawa ini,” kata Dimas Ricco.Manfaat besar dari pengenalan bir jawa ini dirasakan oleh salah seorang pengunjung Pippo Arohmanuri. Menurutnya, minuman ini memiliki rasa yang khas. Selain hangat di tubuh juga memiliki rasa yang segar. Perpaduan rempah-rempah pun sangat baik terutama untuk kesehatan.
Dia pun berharap agar minuman ini dapat terus dikembangkan. Sehingga perkembangannya tidak hanya di satu titik saja. Alhasil minuman ini dapat menyebar dan dikenal oleh masyarakat luas.”Satu lagi kekayaan Jogjakarta yang bisa diangkat menjadi ciri khas. Rasanya sangat khas, ada hangat, asam dan juga segar,” katanya.Kegiatan Ngobar Ngabir ini tidak hanya mengenalkan bir Jawa. Dalam kesempatan ini juga melibatkan anak-anak dalam lomba mewarnai, dan menggambar. Kegiatan ini merupakan wujud field program kelompok 2 finalis Dimjeng DIJ 2014.”Tema Dimjeng DIJ 2014 adalah hamemayu ajining diri, migunani tumraping nagari. Sehingga kita mengangkat potensi yang dimiliki agar berguna bagi semua masyarakat,” kata Dimas Ricco. (*/laz)