MUNGKID – Bencana tanah longsor tidak hanya mengancam warga pascamusim penghujan. Buktinya, tebing di Sungai Apu mengalami longsor saat tak ada hujan. Akibatnya, enam truk pengangkut pasir tertimbun material longsoran.Bahkan, satu sopir truk diketahui meninggal dunia di lokasi yang berada di Dusun Wonogiri, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, setelah beberapa jam tertimbun tanah.Peristiwa bermula saat 10 truk pengangkut pasir antre menunggu giliran muat pasir di Sungai Apu. Sekitar pukul 07.00, tiba-tiba muncul suara benda jatuh yang berasal dari tebing dengan tinggi sekitar 70 meter. Tak selang berapa lama setelah suara, material tanah menerjang enam truk pasir yang ada persis di bawah tebing.
“Waktu longsor, saya sedang mengantri dengan jarak sekitar 20 meter dari tebing yang longsor. Tapi truk yang saya tumpangi masih kena material,” ungkap Bahrodon, 41, saksi mata yang juga sopir truk, kemarin (25/8).Waktu itu, ia bersama anaknya Sepri, 16, berada di dalam kabin truk. Setelah mendengar suara gemuruh, bebatuan, dan tanah tiba-tiba masuk ke dalam kabin. Badan keduanya sempat terkena material tanah dan bebatuan. Beruntung, punggung Bahrudin hanya mengalami luka memar. “Setelah mendengar suara longsor, banyak bebatuan yang masuk ke kabin. Truk lalu jalan sendiri dan roboh ke samping,” imbuh sopir truk dengan nomor polisi H1905FV itu.Sedangkan lima lainnya yang tertimpa longsor adalah truk bernomor polisi AA1438NE, H1941CL, AA1911GB, AA1938NK, dan H1982DS.
Menurut Bahrodin, rekannya sesama sopir ada yang meninggal dunia di lokasi. Saat itu, korban bernama Sugiono, 45 berusaha meyelamatkan diri. Namun, setelah keluar dari kabin, korban warga Langensari Kabupaten Semarang malah tertimbun tanah. Jasad korban diketemukan pukul 10.25, setelah tertimbun tanah 1 – 2 meter. “Niatnya hendak lari, tetapi malah (korban, Red) tertimbun tanah,” imbuh warga Semarang ini.Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo menyatakan, pemicu longsor diduga ada pembebanan air di atas tebing. Selain itu, juga karena getaran aktivitas penambangan yang menggunakan alat berat.
Di atas tebing itu, terdapat saluran air yang tidak kedap air. Sehingga ada pembebanan berlebih. “Tebing yang longsor dengan ketinggian sekitar 70 meter, lebar 50 meter dengan ketebalan tanah yang longsor sekitar dua meter,” jelasnya.Pascakejadian, ia mengimbau masyarakat khususnya penambang pasir untuk sementara tidak beraktivitas apapun di sekitar lokasi tersebut. Karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan yang lebih besar lagi. Dri pantauan, pascalongsor masih banyak air irigasi yang terlihat meresap di tebing. “itu dikhawatirkan memicu longsor lagi. Untuk itu kami imbau aktivitas penambangan dihentikan untuk sementara,” katanya.
Joko menjelaskan, selain di lokasi tersebut, ada banyak tebing curam di sepanjang sungai yang berhulu di gunung Merapi tersebut. Tebing-tebing tinggi kira-kira 70-100 meter itu memilikistruktur tanah dan kemiringan yang hampir sama dengan tebing yang longsor. Peristiwa yang merenggut korban jiwa itu bukan tak mungkin terjadi lagi.”Peristiwa longsor serupa bisa saja terjadi lagi, tergantung pemicunya. Semakin banyak pemicu potensi longsor susulan juga semakin besar,” katanya.(ady/hes)