TANPA peran aktif Bu Lurah, program ini belum tentu jalan. Dia orang yang berada di balik layar. Perannya sangat membantu kami,” ungkap Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas.Pujian Busyro itu disampaikan di sela acara sosialisasi yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Kotagede, akhir pekan lalu. Busyro bersama staf KPK bidang pencegahan sengaja mengundang sejumlah masyarakat Kotagede hadir dalam acara tersebut.Supiyatun kemudian dipersilakan maju. Ia diberikan kesempatan berbicara. Malam itu, salah satu lurah perempuan di Kotagede itu mengenakan jilbab warna merah jambu. Baju yang dikenakan batik berlatar belakang kembang berwarna hitam.
“Saya sempat grogi ketika tahu akan didatangi KPK. Saya berpikir ada apa?,” kenangnya. Supi, sapaan akrabnya, berpendapat kelurahan selama ini tak pernah menggarap proyek. Kalaupun ada kegiatan langsung digarap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) kota maupun provinsi. “Bila ada bantuan, biasanya langsung ke masyarakat sehingga tidak pernah melalui kelurahan,” tuturnya. Oleh karena itu ia merasa kaget saat KPK akan mendatangi kantornya. Rasa bingung Supi itu tuntas saat staf KPK menjelaskan maksud kedatangnya. Yakni mengajak Supi terlibat aktif dalam gerakan pencegahan melawan korupsi.
“Perasaan saya jadi plong, nggak lagi bertanya-tanya,” katanya mengungkapkan curahan hatinya. Supi lantas bergerak. Ia secara intensif mengumpulkan warga dan pemuka masyarakat. Termasuk ibu-ibu yang selama ini aktif dalam berbagai gerakan sosial kemasyarakatan. Di antaranya pendidikan anak usia dini atau PAUD.Atas partisipasi aktifnya itu, KPK memberikan apresiasi dan penghargaan bagi Supi. Bersama Camat Kotagede Nur Hidayat, ia mendapatkan plakat dan poster tentang kampanye pencegahan korupsi.Tak kalah semangat dengan Supi, Nur juta angkat bicara. Pria yang pernah menjabat camat Mergangsan dan Gedongtengen itu berinisiatif menamakan gang-gang di Prenggan, seperti yang tertera dalam poster dari KPK.
“Bagaimana kalau kita beri nama Gang Jujur, Peduli, dan Gang Mandiri,” ucap Nur. Secara spontan mereka yang memadati pendopo kecamatan menjawab dengan kompak. “Setuju….,” jawab warga Prenggan, malam itu yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Di antara warga itu, juga tampak mantan Wali Kota Jogja Herry Zudianto, anggota Komisi A DPRD DIJ Arif Noor Hartanto, dan Bachrun Nawawi yang pernah menjadi anggota DPRD DIJ Periode 1999-2004.Sama seperti warga lainnya, baik Herry, Inung, sapaan akrab Arif, dan Bachun sepakat mendukung usulan camat Kotagede tersebut. “Bagus usulan itu,” ungkap Inung.
Di tengah acara, Alisa Wahid, putri sulung presiden keempat RI Abdurrahman Wahid juga datang. Sebagaimana Supi, Alisa juga berpartisipasi aktif dalam program KPK tersebut. “Saya senang bisa ikut bergabung,” tuturnya. Dengan adanya program pencegahan dari KPK itu, ibu dari Parikesit ini berharap generasi muda ke depan punya pandangan yang sama. “Anak muda harus berani mengharamkan korupsi. Uji cobanya dimulai dari Jogja,” tuturnya.Herry Zudianto mengatakan, kegiatan di Prenggan itu merupakan implementasi dari program Jujur Barengan. Program itu diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2014 di Kepatihan. “Pencegahan korupsi dengan basis utama dari keluarga,” katanya.Busyro di bagian lain menilai muara dari pencegahan korupsi berbasis keluarga adalah meningkatkan kepekaan dan kontrol masyarakat. Masyarakat diharapkan peduli dan peka. “Kalau ada tetangganya yang kebetulan penyelenggara negara kehidupannya agak neko-neko, mereka bisa mengawasi. Kontrol publik menjadi penting,” harapnya. (*/laz)