JOGJA – Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 19 yang berlangsung beberapa waktu lalu meninggalkan beberapa catatan. Kesenian gamelan dapat berkolaborasi apik dengan unsur lain. Ini membuktikan bahwa gamelan bersifat dinamis dan kolaboratif.Hal yang sama juga diungkapkan vokalis grup band Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh. Pria yang akrab disapa Noe ini mengungkapkan gamelan sangatlah penting. Sehingga, sudah menjadi kewajiban untuk menjaga dan melestarikan.”Satu hal yang penting, gamelan itu pusaka budaya, bukan warisan budaya. Warisan bisa habis, kalau pusaka akan tetap terjaga,” katanya.
Dalam kesempatan ini Noe bersama Patub, Ari dan Dhedot membuktikannya. Alunan musik Letto yang syahdu mampu berkolaborasi apik dengan gamelan. Alhasil, untaian nada indah tercipta dalam kolaborasi ini.Sang gitaris Patub menambahkan, ini adalah bukti kekuatan dari gamelan. Jika mampu digarap dengan tepat, tidak akan mengurangi esensi musik. Justru jika optimal mampu menghidupkan nyawa dari lagu tersebut. Bahkan wujud kolaborasi pun akan menyatu dan menjadi kesatuan.”Dalam kesempatan ini, kami kolaborasikan dengan gending gamelan. Terbukti kedua unsur musik beda zaman mampu hadir dan bersanding dengan indah,” katanya.
Ditemui terpisah, Program Director YGF Ari Wulu mengungkapkan gamelan sudah menjadi kekayaan global. Kesenian ini tidak hanya menjadi milik Indonesia. Dalam perkembangannya gamelan telah berakulturasi dengan budaya asing.Gamelan tidak hanya diam di tempat tapi sudah mulai bergerak. Terbukti dalam pementasan YGF sejak 21 hingga 23 Agustus lebih berwarna. Ini karena partisipasi pemain gamelan juga hadir dari Tiongkok, Meksiko dan Amerika Serikat.”Bahkan trendnya saat ini gamelan sudah merambah anak muda. Gamelan tidak lagi menyajikan tembang lawas, tapi juga berkolaborasi dengan lagu-lagu popular,” kata Ari ditemui di Plasa Pasar Ngasem (26/8).
Ari menambahkan penyelenggaraan YGF tahun ini berbeda, di mana merupakan grand desain YGF dari tahun sebelumnya. Konsep pertunjukan lebih matang dengan menghadirkan tema Belongs to Everyone.Tema ini, menurut Ari, menunjukkan bahwa gamelan sudah menjadi milik umum. Sehingga kekayaan ini bisa dibilang sebagai kekayaan budaya global. Hal ini menambah semangat bahwa gamelan tetap bisa bertahan. “Tentu saja apa yang sudah direncanakan di grand design tidak bisa dinilai dari apa yang terjadi kemarin. Tapi bahwa perjalanan 19 tahun YGF membuktikan bahwa gamelan menjadi milik semuanya. Ke depan akan terus diselenggarakan dengan adanya penambahan program-program, baik pra maupun pasca acara,” pungkasnya. (dwi/laz)