JOGJA – Setelah wilayah Bantul, antrean panjang pengendara yang ingin mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga terlihat di Kota Jogja dan kabupaten lain di DIJ. Sejak kemarin pagi (26/8), antrean sudah terlihat di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kalaupun tidak terjadi antrean, karena stok BBM bersubsidi sudah habis.Kondisi ini memang efek dari pengendalian BBM bersubsidi yang dilakukan Pertamina sejak 18 Agustus lalu. Asisten Manager External Relation PT Pertamina DIJ-Jateng Robert Marchelina Verieza Dumatubun menjelaskan, pengendalian dilakukan agar kuota BBM bersubsidi bertahan sampai akhir tahun. Hal ini karena APBN-P 2014, kuota BBM bersubsidi dikurangi dari 48 juta kilo liter (KL) menjadi 46 juta KL.Menurut Robert, saat ini pilihanya tinggal dua, menyalurkan BBM bersubsidi secara normal dengan konsekuensi kuota BBM bersubsidi habis sebelum akhir tahun, yaitu November untuk solar dan Desember untuk premium. Selanjutnya masyarakat harus membeli BBM non subsidi hingga akhir tahun. “Sementara pilihan lainnya adalah mengendalikan suplai BBM bersubsidi setiap harinya, sehingga kuota BBM bersubsidi bisa cukup hingga akhir tahun,” ujar Robert kemarin (26/8).
Robert menilai antrean yang terjadi saat ini karena kepanikan masyarakat. Menurut dia, sebenarnya stok BBM tersedia. “BBM-nya itu ada, jika yang bersubsidi habis bisa beralih ke non subsidi,” ungkapnya. Meskipun begitu, di SPBU kelangkaan premium memang berhasil memaksa masyarakat beralih menggunakan Pertamax, tapi ternyata stok Pertamax juga tidak mencukupi. Banyak SPBU yang juga kehabisan Pertamax. Untuk BBM nonsubsidi, menurut Robert, begitu habis bisa segera ditambah pasokannya.Tetapi untuk BBM bersubsidi, meski terjadi antrean panjang, Pertamina tidak akan melakukan penambahan jika kuota hari itu sudah habis. Kondisi itu juga dikarenakan untuk wilayah Marketing Operation Reg IV DIJ dan Jawa Tengah hingga 23 Agustus 2014, realisasi konsumsi BBM bersubsidi telah mencapai 65 persen dari kuota 2014. Untuk realisasi konsumsi premium bersubsidi di DIJ telah mencapai 67 persen. Sedangkan realisasi konsumsi solar bersubsidi di wilayah DIJ sudah 61persen dari kuota 2014.
Sebagai inisiatif pelayanan kepada masyarakat, Pertamina telah menyiapkan subtitusi BBM dengan menyediakan BBM non subsidi kepada masyarakat. Sampai dengan 23 Agustus 2014, data sementara realisasi konsumsi BBM non subsidi di wilayah DIJ dan Jateng mengalami kenaikan 4,1 persn dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Kalau yang non subsidi bisa dilakukan penambahan sesuai permintaan,” terangnya.Robert menjelaskan, untuk pengiriman BBM bersubsidi, Pertamina menerapkan ritase dengan prioritas pengiriman ke wilayah pinggiran Jogja terlebih dahulu. Hal itu juga mempertimbangkan jarak tempuh yang lebih lama, sehingga dikhawatirkan kekosongan BBM jadi lebih lama. “Wilayah Kota Jogja ini masuk ritase dua, karena jarak tempuhnya lebih dekat,” ungkapnya.Berdasarkan pantauan di beberapa SPBU di Kota Jogja, antrean masyarakat terutama motor yang ingin mengisi premium. Meski sudah mengantre panjang, bukan berarti bisa mendapatkan BBM bersubsidi. Karena kuota BBM bersubsidi hari itu sudah habis, masyarakat diminta untuk ganti menggunakan BBM non subsidi.
Ini yang terlihat di SPBU Terminal Giwangan Ring Road Selatan. Padahal, di SPBU tersebut terpampang tulisan Premium habis. Ternyata, mereka mengantre untuk membeli Pertamax.”Saya sudah muter di tiga SPBU. Semuanya ngantre untuk beli Pertamax saja,” sesal Isna, salah seorang pengantre.Tak berbeda dengan di SPBU di Kota Jogja. Di SPBU Badran, antrean juga mengular sampai dengan perempatan Badran. “Mau beli Pertamax juga ngantre. Karena jadi satu tempat pengisiannya,” ujar salah seorang petugas SPBU tersebut.Masyarakat yang tidak sabar, beberapa orang juga memilih untuk membeli bensin eceran. Kondisi itu dimanfaatkan pedagang bensin eceran untuk menaikkan harga hingga menjadi Rp 10 ribu per botol. (pra/eri/laz)