KULONPROGO – Antrean panjang kendaraan dan warga yang berusaha membeli premium dengan jeriken terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Kabupaten Kulonprogo, kemarin (26/8). Hal itu sebagai dampak pembatasan BBM bersubsidi oleh PT Pertamina. Kondisi itu tidak hanya dikeluhkan oleh warga, namun pembatasan alokasi ini juga membuat pusing pihak SPBU, sebab selain menimbulkan antrean panjang, juga menurunkan omset pendapatan. “Seperti SPBU Sogan atau SPBU Wates, biasanya sehari dapat kuota 16 ribu liter, kini dikurangi dan hanya dapat 8 ribu liter. Stok itu hanya bisa bertahan sampai setengah hari, setelah itu habis,” kata Dalduri Budi Prasetya, Ketua Paguyuban Penanggung Jawab dan Pengelola (PPJP) SPBU se-Kulonprogo, kemarin.
Dalduri menjelaskan, langkah pengendalian BBM bersubsidi dari Pertamina yang direalisasikan dengan menjadwal pengiriman masing-masing SPBU dengan kuota tertentu, dampaknya sudah terlihat. “Artinya meski SPBU memiliki persediaan delivery order (DO), tapi tidak bisa meminta pengiriman BBM bersubsidi sesuai keinginan. Sehingga terjadi kekosongan pasokan, dan pembeli di SPBU menumpuk,” tandasnya.Menurut Dalduri, kondisi itu merugikan SPBU. Pasalnya potensi keuntungan yang dinikmati pengusaha SPBU berkurang. “Pembatasan itu memang mengarahkan pembeli untuk kemudian mereka memilih beli pertamax. Namun tidak semua pembeli mau beli pertamax,” ujarnya.
Pembatasan kuota yang dilakukan Pertamina alasan dasarnya ketersediaan BBM bersubsidi sampai akhir tahun. Pemberlakuan penjadwalan dan kuota pengiriman ke masing-masing SPBU ini diberlakukan sejak Senin (18/8) hingga akhir bulan. “Sementara di bulan September, kami juga belum tahu apakah akan dilanjutkan seperti ini atau tidak,” ucapnya.Direktur Perusahaan Daerah Aneka Usaha sekaligus mengelola SPBU Wates Fitroh Nurwijoyo Legowo mengungkapkan hal senada. Di SPBU Wates biasanya mendapat pasokan 21 ribu hingga 24 ribu liter per hari. Dan kini hanya mendapat pasokan 16 ribu liter. “Hari ini (kemarin,red) juga 16 ribu liter. Setahu saya seiap SPBU beda-beda jadwalnya, pengurangan dilakukan secara merata. Kami beru diberi tahu jadwal sampai 31 Agustus, untuk September belum tah,” terangnya. (tom/jko)