MAGELANG – Evaluasi yang Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang terhadap pelaksana pembangunan shelter bagi para pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Sigaluh cukup brtaji. Pelaksana proyek langsung melaksanakan rekomendasi yang dilakukan. Di antaranya, pemasangan papan proyek, pembuatan rambu-rambu tumpukan material dan ruangan direktur kit. Pihak pelaksana, yakni CV Karya Mandiri berdalih sejak awal berusaha menyediakan kelengkapan untuk proyek dengan pagu Rp 430 juta dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp 241, 624 juta. Masalahnya, mereka terkendala waktu.”Kami sudah persiapkan hal-hal tersebut. Hanya masalahnya, saat itu belum dipasang,” ungkap Pelaksana Lapangan CV Karya Mandiri Ari Setyawan kemarin (27/8).
Ari meneruskan, sejak Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) diterima pada 7 Agustus lalu, mereka langsung mempersiapkan lahan proyek. Termasuk, melakukan pemesanan ke percetakan, untuk pengadaan papan proyek dan rambu-rambu.”Selasa sore baru jadi. Mau dipasang sudah keburu sore. Ya, hari ini (kemarin, Red), akhirnya baru dipasang,” paparnya.Seperti diketahui, proyek pembangunan shelter PKL di Jalan Sigaluh sesuai kontrak kerja bernilai Rp 220,849 juta. Atas kegiatan DPP Kota Magelang tersebut, masyarakat mengeluh tidak nyaman, karena tidak adan trotoar yang bisa digunakan. Trotoar sisi utara terpasang shelter untuk PKL dan trotoar sisi selatan tengah dibangun shelter. Jalan Sigaluh sendiri, merupakan jalan penghubung antara Jalan Pemuda dan Jalan Majapahit atau Kawasan Pecinan dengan Kampung Kawatan yang ramai dan banyak pejalan kaki.Menariknya, hasil penelusuran di situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemkot Magelang, proyek diikuti 20 penyedia jasa. Pemenangnya, CV Karya Mandiri dengan penawaran Rp 220.849.000. Selain CV Karya Mandiri, ada CV Bahana Manunggal Citra dan CV Widias yang melakukan penawaran proyek dengan nilai Rp 230, 311 juta dan 236,725 juta.
Dalam catatan LPSE, Widias gugur karena tidak memasukkan dokumen penawaran. Sedang Bahana tidak memasukkan jaminan penawaran.”Ini lelang yang membingungkan. Masak ada penyedia jasa yang tidak memasukkan dokumen penawaran, tetapi kok bisa muncul nilai penawaran. Kami curiga, seperti yang sudah-sudah, lelang ini hanya bohongan. Karena semua sudah dikondisikan,” kritik Sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ahmad Dahlan Magelang Adi Gunawan.Adi Gunawan yang juga mahasiswa Universitas Magelang (UM) Magelang berharap Pemkot Magelang benar-benar melaksanakan good government. Salah satu indikatornya, pelaksanaan lelang proyek yang transparan dan akuntabel.Pelaksana Lapangan CV Karya Mandiri Ari Setyawan membantah telah mengkondisikan lelang yang ada.”Kami fight mas. Tidak ada yang dikondisikan. Kalau dikondisikan, masak kami nawar hingga Rp 220 juta dari pagu Rp 240 juta. Itu kan turun di atas 7 persen,” tegas Ari.(dem/hes)