KAKI Raja Keraton Sultan Hamengku Buwono X saat alunan tembang Panembrono dari siswa sekolah kesenian tersebut tampak bergerak. Tumitnya mengayun ke atas ke bawah, mengikuti irama alunan karawitan.Tanpa ada aba-aba, kaki kanan dan kiri raja yang bernama kecil BRM Herjuno Darpito itu bisa mengayun padu. Sedangkan sorot mata sang raja fokus ke arah siswi-siswi yang melantunkan tembang tersebut. Terdengar sayup-sayup, suara dari siswi-siswi itu tanggal lahirnya negeri ini 17 Agustus 1945 dengan bahasa Jawa. Itu kian menambah ayunan kaki HB X yang siang itu duduk berdampingan bersama Sri Paduka Paku Alam IX.
Raja yang naik takhta pada 7 Maret 1989 ini duduk sambil mengangkat tangan kanannya di pembatas kursi. Saat siswi-siswi bergerak dan berputar sambil melantunkan tembang tersebut, ia pun sedikit menggeser posisi duduknya. HB X terlihat mengikuti setiap gerakan dan alunan karawitan.Siang itu, Sultan HB X dan Paku Alam IX menerima salaman dari abdi dalem. Gubernur mengenakan seragam batik berwarna merah dengan celana hitam, dan sepatu mengkilat. Sedangkan Paku Alam mengenakan batik warna kuning. Sementara para dalem yang berjumlah 800 orang, mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Bagi abdi dalem laki-laki mengenakan surjan dan perempuan kebaya. Saat akan bersalaman dengan sang raja, mereka menanggalkan alas kakinya.
Seperti halalbihalal lain, mereka juga harus berdiri mengantre, menanti giliran untuk menyalami HB X. Begitu sampai di hadapan gubernur, mereka harus berhenti sejenak sambil merapatkan tangan kanan dan kiri untuk memberi hormat.Di hadapan abdi dalem keprajan dan punokawan ini, HB X memberikan wejangan khusus. Yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa. Isinya, abdi dalem yang masih aktif di pemerintahan harus bisa memanfaatkan dana istimewa (Danais) untuk nguri-nguri kebudayaan Jawa.”Pamundut Ingsun (permintaan saya), supoyo poro abdi dalem keprajan kang saiki isih makarya ing paprentahan daerah wajib ngrancang lan nanjakake Danais kanggo kabudayane masyarakat (Supaya para abdi dalem keprajan yang masih berada di pemerintah daerah wajib merancang dan memanfaatkan Danais untuk kebudayaan masyarakat),” kata HB X, saat membacakan sambutan.
Pemanfaatan Danais ini, lanjut HB X, juga harus memperhatikan aturan yang ada. Mereka harus menaati asas prioritas. Bukan malah memanfaatkan Danais untuk hal-hal yang tidak terlalu penting di masyarakat. “Yektine, yaiku poro pamong praja pangembating paprentahan kang tansah makarya migunani mring liyan kanggo raharjaning kawula. (Khususunya, yaitu para pamong praja yang menjabat di pemerintahan untuk bekerja demi melayani kesejahteraan masyarakat),” pesannya.Ketua Panitia Syawalan GBPH Yudhaningrat mengajak abdi dalem untuk lebih meningkatkan upaya untuk pelestarian budaya, terutama budaya adiluhung Jogjakarta. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ ini mengemukakan, setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh para abdi dalem diajaknya untuk saling memaafkan, sehingga kembali menjadi fitri atau suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan. (*/laz)