BANTUL – Wacana pencabutan izin rekomendasi bagi para pengecer bensin menuai kontroversi. Wacana yang digulirkan Kapolres Bantul AKBP Surawan ini mendapatkan kritikan dari kalangan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).Salah seorang pengusaha SPBU Agus Wiyarto menegaskan pencabutan izin rekomendasi bagi pengecer bensin tidak relevan. Sebab usaha jual-beli bensin eceran memiliki legalitas, yaitu kesepakatan bersama seluruh pemerintah di DIJ. “Ketika dilarang justru akan memicu antrean di SPBU yang semakin panjang,” terang AW, sapaan akrabnya dalam rapat Koordinasi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) dengan Hiswana Migas, Pemilik SPBU se-Bantul, Pertamina, Polres Bantul, dan Kodim 0729 di kantor Disperindagkop Bantul kemarin (27/8).
Toh, pemberian izin rekomendasi bagi para pengecer juga sama dengan membuka lapangan pekerjaan baru. Pencabutan izin justru semakin menambah daftar pengangguran. “Karena belum tentu di satu kecamatan ada SPBU,” ujarnya.Sebagaimana diketahui, Kapolres Bantul AKBP Surawan berencana mengusulkan pencabutan izin rekomendasi pembelian premium bagi pengecer. Usulan ini akan disampaikan ke Disperindagkop selaku SKPD yang mengeluarkan surat izin rekomendasi. Usulan ini untuk mengantisipasi kerawanan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi.Namun demikian, pemilik SPBU yang terletak di Wonokromo, Pleret ini sepakat dengan pencabutan izin rekomendasi pembelian solar bagi para pengusaha tambak. Dasarnya, usaha tambak termasuk industri dengan modal besar. “Ini bukan lagi UMKM atau UKM,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanta menegaskan pihaknya akan memantau lebih ketat pembelian BBM oleh para pengecer. Selain itu, Disperindagkop juga meminta SPBU tidak melayani pengecer yang membeli BBM lebih dari 20 liter per hari. “Petugas harus teliti ketika melayani pengecer,” pinta Sulis, sapaannya.Disperindagkop, kata Sulis, akan memberikan sanksi tegas kepada SPBU yang melayani satu pengecer bensin lebih dari satu kali dalam sehari. Tetapi di sisi lain, ternyata masih ditemukan sejumlah pengecer nakal. Mereka memanfaatkan kelengahan petugas SPBU. Dari pantauan Radar Jogja di salah satu SPBU di Jalan Bantul, para petugas SPBU tak pernah memeriksa surat rekomendasi para pengecer. Meskipun di mesin pemompa BBM tertera tulisan “Tidak akan melayani pengecer yang tidak membawa surat rekomendasi”. Para petugas hanya mengisi satu persatu puluhan jeriken yang telah berderet mengantre.
Dari kelengahan petugas ini, banyak pengecer mengantre dengan membawa dua jeriken. Alhasil, para pengecer inipun dapat membawa pulang BBM premium 40 liter per hari.”Wong aku yo nggowo loro (jeriken) kok,” tutur seorang pengecer saat mengobrol dengan seorang temannya saat mengantre di SPBU yang terletak di Jalan Bantul KM 8, Diro, Pendowoharjo, Sewon ini.Hal serupa juga dilakukan sejumlah pengecer lainnya. Tetapi ada juga yang menyiasatinya dengan mengajak seorang kerabatnya untuk ikut mengantre. Kenekatan para pengecer ini karena kelengahan petugas SPBU. Padahal, mereka juga tak memiliki surat izin rekomendasi. (zam/ila)