JOGJA– Setelah berhasil membawa PSIM Jogja menyelesaikan kompetisi Divisi Utama 2014, manajemen Laskar Mataram yang berada di bawah naungan PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) segera mempertanggungjawabkan kinerja mereka. Saat ini Direktur Utama (Dirut) PT PIM Dwi Irianto dan jajarannya tengah berencana membuat Laporan Pertanggungjawaban yang akan diserahkan pada Ketua Umum (ketum) Haryadi Suyuti.Direktur Operasional PT PIM yang juga Sekretaris Umum (Sekum) PSIM Jarot Sri Kastawa mengatakan, pihaknya menargetkan LPj ini sudah rampung pekan ini. Dengan selesainya LPj, manajemen Laskar Mataram saat ini sudah dinyatakan demisioner.”Nanti yang akan membuat detilnya direktur keuangan (Iriantoko Cahyo Dumadi, Red). Kami sih menargetkan kalau bisa semua bisa selesai pada akhir pekan ini,” kata pria yang juga penghobi memelihara burung kenari dan love bird tersebut.
Yang jelas, setelah musim berakhir, manajemen PSIM masih memiliki sejumlah utang. Di antaranya gaji pelatih Seto Nurdiyantara dan staf-stafnya. Persoalan ini sempat berbuntut panjang lantaran para pemain berniat mogok pada laga terakhir kontra Persinga Ngawi demi menunjukkan solidaritas pada Seto,Selain gaji Seto dan stafnya PSIM juga memiliki tunggakan yang belum terbayarkan pada pemain. Yakni uang sepatu serta bonus pertandingan tandang melawan PSBK Blitar. Kata Jarot sejumlah utang ini diusahakan terbayar dalam waktu dekat.”Nah inilah utang-utang yang masih kami miliki pada sejumlah pihak termasuk para pemain dan pelatih. Manajemen tentunya berusaha agar ini bisa segera terlunasi,” paparnya.
Dirut PT PIM Dwi Irianto menyatakan, di musim ini defisit PSIM dipastikan besar. Pria yang akrab disapa Mbah Putih (MP) ini mengaku tidak tahu pasti berapa kerugian yang dialami PSIM. Tetapi dia menaksir total defisit menembus angka Rp. 1 miliarAngka ini memang masih lebih rendah daripada musim 2011/2012 kala PSIM sukses menembus babak semifinal Divisi Utama Liga Indonesia (LI). Tetapi jika dibandingkan musim lalu, jumlah ini sedikit membengkak. Ya pada musim 2013, defisit yang dialami PSIM hanya menembus Rp 700 juta.”Jujur saya belum tahu pastinya. Tapi jika ditaksir mungkin angkanya bisa mencapai Rp. 1 miliar. Itu jelas sangat besar,” jelasnya.
Terpisah, Seto selaku pelatih kepala PSIM masih menunggu iktikad baik dari manajemen PSIM. Ia berharap gajinya yang tertunggak dapat terbayarkan dengan segera.Seto menegaskan meskipun musim ini dikecewakan, dia masih ingin melatih PSIM. Terlebih lagi, kenangan bersama tim asuhannya tidak dapat dia lupakan begitu saja. Jika kembali dipercaya, Seto bakal berusaha untuk semakin membawa PSIM berprestasi lebih baik lagi.”Artinya PSIM musim ini sudah berada di trek benar bersama para pemain muda. Tinggal dilanjutkan saja,” ungkap menantu mantan manajer PSS Sleman Subardi tersebut. (nes/din)