DARItempat inilah produk kerajinan batik Giriloyo kemudian bisa berkembang pesat dan mendunia.Bencana gempa bumi tektonik 2006 ternyata punya cerita tersendiri bagi perajin batik di area Giriloyo. Pasca gempa 2006 seluruh sendi kehidupan di wilayah Giriloyo memang lumpuh. Tak terkecuali industri rumahan kerajinan batik. Tetapi, di balik cerita duka tersebut kemudian memunculkan banyak peluang. Ya, pasca gempa 2006 industri kerajinan batik justru lebih menggeliat. “Pasca gempa banyak pihak yang mendorong masyarakat bangkit,” tutur Ketua Paguyuban Batik Giriloyo Nur Ahmadi.Dorongan itu di antaranya datang dari Jogja Heritage Society dan Institut Research dan Employment (IRE) Jogja. Dua organisasi ini giat mendorong dan memotivasi masyarakat. Khususnya para perajin batik.
Bahkan, IRE Jogja pula yang mengusulkan pendirian Gazebo Wisata kepada United States Agency for International Government (USAID).Namun demikian, usulan pendirian Gazebo Wisata ini juga tak terlepas dari keinginan para perajin. Para perajin ingin memiliki tempat bernaung dan berkumpul. Pada 2008 kemudian Gazebo Wisata didirikan. Meski diberi nama gazebo, namun di atas tanah kas desa Wukirsari tersebut juga terdapat beberapa bangunan dengan model lain. Yang paling tengah berupa bangunan mirip pendopo. Bangunan berukuran cukup besar ini didesain sebagai ruang pertemuan dan untuk menerima kunjungan para tamu. Kemudian, di belakangnya berdiri bangunan yang berfungsi untuk menyimpan berbagai peralatan membatik. Juga berbagai koleksi batik para perajin.
Maklum, pada hari-hari tertentu Gazebo Wisata ini kerap menerima kunjungan para siswa dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan kampus di DIJ. Kedatangan mereka untuk belajar membatik. “Kadang-kadang juga disewa untuk berkemah dan outbond,” urai Nur Ahmadi.Pertemuan para perajin batik di Gazebo Wisata dilakukan setiap tanggal 15. Ada sejumlah acara di dalamnya. Mulai yang ringan-ringan hingga yang paling serius. “Arisan misalnya,” sebut Nur Ahmadi.Pembicaraan mengenai rencana mengikuti pameran juga masuk dalam agenda pertemuan rutin ini. Tak ketinggalan, juga persoalan kesepakatan harga batik di setiap kelompok yang tergabung dalam Paguyuban Batik Giriloyo ini.Nur Ahmadi menguraikan, harga batik di Giriloyo seragam. Ini dilakukan untuk menghindari persaingan tak sehat di kalangan perajin. Tak jarang, ada calon pembeli dengan modal besar yang ingin merusak harga batik di Giriloyo. Tetapi upaya itu hanya sia-sia. “Berkat pertemuan rutin di gazebo ini semuanya bisa terkendali. Tak hanya dari Giriloyo, perajin dari Cengkehan dan Karangkulon juga tergabung dalam satu paguyuban,” ujarnya.
Menurutnya, usaha kerajinan batik bagi warga Giriloyo dan sekitarnya sebagai mata pencaharian utama. Ada 1200 lebih ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai perajin batik di pedukuhan Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon. Mereka tergabung dalam 15 kelompok perajin. Jumlah kelompok perajin batik ini jauh lebih besar dibanding sebelum gempa. Saat itu, jumlahnya satu kelompok.k, kata Nur Ahmadi, minimal Rp 3 juta perbulan. Sehingga total sirkulasi uang di 15 kelompok perajin ini mencapai perbulannya menembus Rp 45 juta. “Produk-produk kita memang sudah ekspor. Tetapi masih melalui pihak ketiga,” urainya.Paguyuban Batik Giriloyo berupaya ingin mengekspor sendiri produk-produk batik. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menembus pasar dunia ini. “Sudah mencapai 60 persen persiapannya. Yang pasti SDM yang kita perkuat,” tegasnya.(*/din/ga)