WILAYAH ini dari Kota Denpasar, bisa ditempuh satu jam atau hanya sekitar 50 kilometer arah ke Ubud.Bangli menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Bali yang tidak memiliki pantai. Namun, itu tidak menjadi halangan bagi pemerintah setempat dalam pengembangan pariwisata lokal.Wilayah yang konon menjadi tonggak berdirinya kerajaan Hindu kuno itu punya hutan bambu yang sangat luas. Total luasnya mencapai 6.620 hektare yang hanya tersebar di empat wilayah kecamatan.Nah, rerimbunan tanaman rumpun itulah yang menjadi salah satu andalan Bangli untuk menarik wisatawan. Salah satunya hutan yang terletak berdampingan dengan Desa Wisata Penglipuran.Masuk ke hutan bambu melalui desa wisata, pengunjung disuguhi pemandangan menakjubkan. Berupa perkampungan pemukiman penduduk yang bersih, asri, dan nyaman.
Secara umum, rumah-rumah warga di situ umumnya bangunan arsitektur khas Bali. Di halaman terdapat banyak tempat sembahyang dan sesajian. Lengkap dengan gapura sebagai pintu masuk halaman.Satu hal yang menunjukkan kekhasan kampung ini adalah rumah dengan atap sirap bambu. Bahkan, sebagian rumah dalam satu halaman masih ada yang dindingnya full dari anyaman bambu.Rumah bersirap bambu temasuk adat yang tak boleh ditinggalkan. Meski sebagian rumah dibangun dengan arsitektur modern, rumah sirap tetap harus ada.Karena itulah, pemerintah setempat menyebut Desa Penglipuran sebagai kawasan konservatif yang dilestarikan.
Warga desa adat juga yang mengelola hutan bambu seluas 45 hektare. Budidaya bambu juga harus megikuti aturan adat. Keunikan itulah yang justru membuat Bangli cukup tersohor.Itu pula yang menjadi alasan rombongan Pemkab Sleman yang dikomando Bupati Sri Purnomo belajar budidaya tanaman bambu ke Bangli kemarin (28/8). “Mungkin ada yang bisa diadopsi di Sleman,” ujar Asisten Sekda Bidang Pembangunan Suyamsih.Budidaya dan pelestarian bambu di Penglipuran berjalan baik justru bukan dengan teknologi modern. Sebaliknya, kearifan lokal yang terbalut adatlah yang membuat hutan bambu tumbuh subur. Ada awek-awek (aturan adat) yang harus ditaati untuk budidaya bambu.
Penanaman dan penebangan bambu ada hitungan hari baik dan buruk. Dalam hal ini, warga setempat pantang menebang bambu pada hari Minggu. Pun cara menebangnya tidak asal tebang pilih. Hanya bambu usia tua yang boleh ditebang. “Harus hari baik. Kalau Minggu ditebang, tanaman cepat membusuk. Kalau menebang tidak boleh sampai habis,” ungkap Ketur Sadia selaku Kabid Rehabilitasi Hutan dan Perkebunan Pemkab Bangli.Hutan bambu yang ada sebenarnya telah dikelola secara turun-temurun sejak puluhan, bahkan ratusan tahun. Warga sekarang hanya melanjutkan.Selain jenis betung, bambu tali paling banyak tumbuh di hutan. Disebut tali karena teksturnya kecil dan lentur pada bagian ujung, serta biasa digunakan untuk mengikat. Di Jogjakarta dikenal sebagai bambu apus. Bagian batang dan pangkal yang lebih tebal juga dibuat tali setelah disisir dengan pisau. “Memang hanya untuk kerajinan pernak-pernik. Biasanya untuk bahan keperluan upacara adat. Bukan mebel,” jelas Ketut.
Total ada 30-an jenis bambu di Bangli. Tapi hanya bambu tali yang paing potensial. Kerajinan bambu telah menembus pasar ekspor ke Eropa. Bambu juga mampu menjadi mata pencaharian masyarakat.Data Pemkab Bangli, 98 persen unit usaha kerajinan bambu mampu menampung 33 persen warga sebagai pekerja (perajin). Per unit rata-rata tiga orang. Kerajinan dikerjakan hampir di setiap rumah warga. “Bambu itu dari akar sampai ranting nggak ada yang terbuang,” ungkap Ketut.Bambu apus juga termasuk yang paling dicari di Sleman. Hanya, kebutuhannya lebih banyak untuk mebel dan kerajinan rumah tangga.(*/din)