JOGJA – Tidak bisa dipungkiri pertumbuhan industri kreatif di Jogjakarta semakin berkembang seiring dengan keberadaan industri kecil menengah (IKM) yang bermain di sektor digital. Memfasilitasi tersebut pemerintah berencana mendirikan Rumah Animasi Internasional (RAI) di Jogjakarta. “Kami sudah menjaring 20 animator yang tergabung dalam IKM. Dengan keberadaan RAI Jogjakarta bisa secara mandiri mengekspor dan memenuhi konsumsi animasi dalam negeri,” jelas Kepala Bidang Industri Logam, Sandang dan Aneka Dinas Perdagangan dan Koperasi DIJ Pollin Napitupulu, Kamis (28/8) kemarin.Keberadaan RAI sendiri direncanakan didirikan di Jalan Hos Cokroaminoto. Fasilitas yang disediakan menggunakan anggaran dari APBN. “Target dua tahun kedepan sudah selesai,” terangnya.
Pollin menegaskan kualitas animasi yang diproduksi IKM tidak diragukan lagi. Ini dibuktikan dengan besarnya pesanan produk-produk animasi dalam bentuk permainan maupun film. Dia menambahkan untuk penghasilan dari produksi animasi cukup menjanjikan. Diungkapkan untuk sebuah film animasi berdurasi 30 menit saja harganya mencapai ratusan juta. “Ini potensi besar untuk meningkatkan perekonomian DIJ dari sektor industri kreatif,” katanya.Selain itu, Pollin mengatakan para IKM yang bergerak di bidang animasi ini cukup unik. Selain membuat produk animasi, para IKM juga memproduksi produk sampingan berupa merchandise seperti kaus, mug dan poster. Cara tersebut salah satu ide tepat untuk memancing masyarakat mengetahui produk animasi yang akan diluncurkan, disamping menambah pemasukan.
Sedangkan jumlah produk yang dihasilkan dari IKM animasi ini untuk film setahun menghasilkan satu produk. Sedangkanuntuk game jumlahnya cukup banyak. “Bagi produk iklan, setiap tahunnya mencapai lima persen. Sebagian kecil IKM ini berasal dari kampus dan datang dari usaha mandiri masyarakat untuk membentuk IKM,” terangnya.Sementara itu, Art Director dari Studio Kasat Mata M Ihlas mengatakan keberadaan animasi di Indonesia belum sepenuhnya dihargai oleh masyarakat. Menurutnya masyarakat hanya ingin memanfaatkan produk-produk animasi secara gratis dengan mengunduh. “Jika produk animasi bagus dibagikan secara gratis otomatis responnya cepat. Untuk menyiasati itu kami membuat merchandise-nya juga. Namun sayang masih kurang mendapatkan respon juga,” terang pria yang akrab disapa Sali.
Sali mengatakan sejak berdiri 2002 silam studio animasi tersebut sudah menghasilkan puluhan produk mulai dari film, permainan dan modul edukasi. Produk-produk tersebut rata-rata pesanan dari perusahaan, LSM dan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). “Untuk harga sebuah produk, dia menjelaskan, tergantung dari durasi. Variasi sederhana seperti film yang paling sederhana dengan durasi lima menit harganya mencapai Rp 30 juta,” terangnya. (bhn/ila)