JOGJA – Di tengah maraknya serbuan kuliner asing, masakan asli Indonesia masih mendapat tempat khusus bagi penikmatnya. Salah satunya gulai. Sebagai warisan kuliner asli Indonesia, gulai memiliki berbagai varian, tidak hanya gulai daging saja. Hal itu pula yang terlihat dalam Festival Gule Salero Nusantara yang digelar di Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Jogjakarta, kemarin (31/8). Sebelumnya, rangkaian festival sudah dimulai melalui program gerakan gemar makan gulai (Gemulai) yang diluncurkan Juli lalu. Upaya pelestarian kuliner lokal dari kuliner asing tersebut diinisiasi oleh Mi ABC Gule Salero.”Kami memahami pentingnya mengedukasi masyarakat sebelum mengajak mereka kembali menggemari gulai, karena itu dalam Festival Gule Salero Nusantara ini masyarakat bisa mencicipi langsung berbagai gulai nusantara,” ujar Head of Marketing PT ABC President Indonesia Nurkori kemarin (31/8).
Menurut dia, pihaknya juga sudah memberikan informasi mengenai gulai melalui setiap chanel yang dimiliki. Untuk itu pula Mi ABC mengeluarkan produk gulai dalam bentuk mi. Nurkori menjelaskan dengan kemudahan menikmati gulai lewat mi instan bisa kembali mengangkat kuliner khas Indonesia. Dirinya juga berharap, setelah menikmati gulai dalam festival Gule Salero Nusantara ini bisa mengajak kerabat atau rekannya kembali menikmati gulai. “Gulai itu sangat menarik untuk dieksplorasi, banyak kreasi gulai terbaru yang bisa dicoba,” ungkapnya.Sementara itu Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Made menjelaskan, sebenarnya gulai hampir mirip dengan masakan kari yang asli India. Karena itu pula di luar negeri gulai dikenal sebagai Indonesian Kari. Tetapi, jelas dia, gulai sebenanya lebih komplet dibandingkan kari. “Karena kari tidak memiliki bumbu rempah-rempah sekomplet gulai, jenis gulai juga lebih beragam,” tuturnya.
Upaya melestarikan gulai juga didukung Dinas Kebudayaan DIJ. Disbud sendiri juga sudah berencana membuat buku kuliner khas DIJ. Menurut Kasi Rekayasa Budaya Disbud DIJ Agus Kamarullah, Indonesia maupun DIJ pada khususnya memiliki potensi kuliner yang menjanjikan. Bahkan tidak kalah dengan kuliner asing. “Seperti gulai ini, lebih lezat dan gizinya mungkin lebih lengkap dibanding masakan asing,” ungkapnya. (pra/laz)