SALAH satu korban bencana alam adalah Titik Yuniasih, warga Dusun Salakan, Desa Sirahan, Kecamatan Salam. Kini, ia bersama keluarganya tinggal di Hunian Tetap (Huntap) Judah, Ngawen, Muntilan. Sebelum erupsi dan banjir lahar, ibu dua anak ini sempat menekuni usaha pembuatan jenang, krasikan, dan permen tape. Adapun wilayah pemasaran tidak hanya di Kecamatan Salam dan Muntilan. Tetapi ia memasarkan produknya hingga Kecamatan Dukun dan Sawangan.”Sejak ada erupsi dan banjir lahar, saya berhenti produksi. Karena harus tinggal di TPA (tempat penampungan akhir) Tanjung, yang tidak memungkinkan membuat jenang. Ditambah bingung pemasarannya. Saat tinggal di Hunian Sementara Mancasan, Gulon, saya mencoba berproduksi lagi. Pada awalnya, hanya seminggu sekali,” ungkap Titik, yang ditemui saat berpameran di Hotel Grand Artos Aerowisata and Convention, kemarin (3/9).
Sejak Juni 2013, saat mulai tinggal di Huntap Judah, Titik kembali berproduksi setiap hari. Bahkan, ia mampu memproduksi hingga 50 kilogram (Kg) per hari. “Untuk lebaran, natalan, dan libur sekolah, saya bisa meningkatkan produksi hingga dua kali – tiga kali lipat. Karena, biasanya banyak pesanan,” paparnya.Setelah relokasi atau dipindah, Titik berharap ada perhatian dari berbagai pihak agar dirinya dan ribuan korban bencana mempunyai channeling dan sinergi untuk kehidupan lebih baik.”Memang sih, produksi saya sudah di atas saat berada di Salakan. Pemasaran juga tidak hanya Kabupaten Magelang. Tetapi juga sampai ke Jogja. Tetapi kami ingin diperluas lagi pemasaran kami, karena kami sanggup berproduksi di atas ini,” pintanya.Kehidupan yang lebih baik lagi adalah tujuan relokasi korban bencana. Hal itu ditegaskan Advisor Project Manajement Unit (PMU) Rehabilitasi dan Rekontruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Teguh Muhamad Abduh. “Problem utama program relokasi adalah tidak sekedar memindahkan orang. Tetapi juga kehidupannya. Tentunya agar lebih baik lagi,” katanya.
Menurut Teguh, kementerian PU sudah memindahkan sekitar 2.700 kepala keluarga (KK) dari 3.500-an KK yang berada di daerah rawan bencana. Problemnya, tidak semua KK mau dipindah dengan berbagai alasan. Salah satunya adanya pembangunan infrastruktur. Mereka merasa tidak lagi dalam daerah bencana.”Seperti beberapa warga di Jumoyo, Salam. Mereka merasa aman, setelah aliran Kali Putih diluruskan. Padahal belum tentu. Tapi, karena prinsip kami tidak boleh memaksa, hingga sekarang masih terus melakukan negoisasi,” jelasnya.Karena proses relokasi tidak sekedar memindahkan mereka yang hidup, tetapi kehidupannya, proses menjadi rumit dan panjang. Mengingat memindahkan sekelompok orang dengan berbagai tatanan sosial yang mapan bukan perkara mudah. Tantangannya, warga yang dipindah harus merasa aman dan nyaman di lokasi baru. Sehingga tidak lagi ingin kembali ke tanah asal.”Perasaan aman dan nyaman bisa tercipta, ketika kehidupan ekonomi lebih mapan, interaksi sosial antarwarga terjadi lebih positif dan terciptanya hubungan harmonis antarwarga relokasi,” jelasnya.Upaya membangun kehidupan ekonomi yang lebih mapan menjadi target yang kini hendak ditempuh. Salah satunya melalui kegiatan temu usaha dan pameran, guna menciptakan sinergi dan channeling pengembangan usaha mikro warga terdampak erupsi dan banjir lahar.
Pada temu usaha tersebut, dihadirkan beberapa tokoh yang berhasil dalam pemasaran produk. Di antaranya, Rahman Hakim yang sukses memaparkan berbagai makanan ringan ke seantero nusantara dengan bendera Rahman Food.”Prinsip yang saya pegang adalah bagi-bagi rejeki. Jadi tidak semua produk dari Rahman Food diproduksi sendiri. Tetapi banyak juga yang merupakan titipan orang, yang kami kemas dan dipasarkan. Kalau ada produk dari warga terdampak bencana layak, kami siap pasarkan,” janjinya.Hadir juga Maidar Sutomo dari Assosiasi UMKM Magelang. Perempuan ini mengaku siap memberikan bantuan ilmu untuk pengembangan produk. Mulai soal kemasan, menjaga mutu, hingga persoalan izin. Mengingat sebagai produk yang dijual, itu menjadi kunci.”Kemasan dan menjaga konsitensi mutu hal utama. Soal kemasan tidak sekedar cantik, tetapi memuat informasi soal bahan, kadaluwarsa hingga izin. Minimal ada PIRT-nya,” tegas Maidar.Selain Titik dengan jenang dan krasikannya, juga ada puluhan orang relokasi yang memamerkan produknya. Seperti abon lele, bakpia, slondok, rengginang, semprong, nugget, hingga produk pertanian.(*/hes)