SEIRING berjalannya waktu, anggota komunitas Rangka Tulang kian berkembang. Kebanyakan anggota berasal dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Adapun beberapa kegiatan yang pernah dilakukan komunitas ini, seperti pameran dan performing art yang berkolaborasi dengan Teater 42. “Setahun lalu kita ada project yang disebut even kesenian estafet para pemula pergerakan di era anti kolonialisme,” kata Pegiat Rangka Tulang Adnan Aditya atau yang biasa disapa Cempe.Arti dari even tersebut, yaitu melakukan pemetaan terhadap beberapa tokoh berpengaruh pada zaman Kolonialisme. Nah, setelah itu komunitas ini kemudian menggunakan konsep acara diskusi rutin yang bekerjasama dengan Gerakan Literasi Indonesia. Puncaknya adalah menggelar pameran seni.Ia menerangkan, salah satu tokoh yang diangkat adalah Tirto Adhi Suryo. Penentuan tokoh itupun melalui diskusi rutin yang panjang. Komunitas itu membahas lebih dalam siapa sosok perintis pers nasional Indonesia itu.
“Sebelum memilih tokoh, para anggota Rangka Tulang mendefinisikan apa itu pemula pergerakan,” lanjutnya.Adapun definisi pemula pergerakan menurutnya yaitu orang-orang yang mengawali ide atau gagasan untuk melawan kolonialisme. Tirto Adhi Suryo dipilih karena ketertarikan para anggota membaca tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tokoh Minke dalam novel itu menginspirasi mereka dan belakangan diketahui bahwa Minke adalah gambaran Tirto Adhi Suryo yang ditulis oleh Pramoedya. “Kita sangat mengagumi sosok Pramoedya Ananta Toer. Ia bisa menuangkan cerita sejarah melalui karya seni, khususnya sastra. Kita juga ingin seperti itu, menuangkan sejarah dalam karya seni,” ujarnya. (fid/ila)