LAMSIJAN GILA. Lebih tepatnya, ia memutuskan untuk menjadi gila. Orang-orang memiliki jawaban lain jika ditanya apa tujuan Lamsijan menjadi gila. Meskipun begitu, hanya ada dua alasan yang paling kuat mengapa Lamsijan memutuskan menjadi gila: lari dari utang atau melupakan cinta.Demikain isi petikan cerpen berjudul Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila karya Asef Saeful Anwar. Antilogi cerpen sebanyak 142 lembar yang diterbitkan Pusat Studi Kebudayaan UGM itu menyajikan 15 cerita pendek dengan kata pengantar Kepala Pusat Studi Kebudayaan Dr Aprinus Salam, M.Hum. Cerpen karya Asef itu mengulas berbagai tema, mulai percintaan yang diberi judul Wahyu Kesebelas yang Diturunkan kepada Tatimmah hingga Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila. Untuk menguji karya cerpen itu, Pusat Studi Kebudayaan UGM membedahnya dengan mendatangkan pakar komunikasi UGM Dr Ana Nadhya Abrar, MES.
Dalam cerpen ini, penulis ingin menyuguhkan sejumlah kebaruan, terutama teknik penulisan cerita. Ke-15 cerita pendek itu berjudul Wahyu Kesebelas yang Diturunkan kepada Tatimmah, Pesarean, Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila, Kematian Sebuah Patung, Negeri Para Api, Rahasia Kitab Mimpi-mimpi Raja, Denai, Jembatan, Kakek, dan Sesuatu yang Pergi Sebelum Diungkapkan, Surat Nariratih kepada Kamandanu, Pohon-pohon Bersembahyang, Keputusan Kartim, Lelaki Keibuan dan Perempuan yang Menjepit Bunga di Rambutnya, Seseorang Rindu Berbuat Dosa, Tiga Puluh Tiga Ekor Kambing, Bunda Maria, Surga, Apel dan Tentang Pencerita.”Ini merupakan karya sastra pertama yang saya bukukan,” kata Asef Saeful Anwar kepada Radar Jogja di sela-sela acara bedah buku antologi cerpen di Pusat Kebudayaan UGM, kemarin (12/9).
Pria kelahiran Cisanggarung, Losari, Cirebon, Jawa Barat, ini sehari-hari aktif di Pusat Kebudayaan UGM dan kini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Sejak masih sekolah, Asef mengaku aktif menulis cerpen, esai, dan sajak. Karya sastra tersebut dituangkan dalam buku pribadinya hingga media cetak nasional. “Saya ingin karya ini memberikan warna sastra tersendiri dalam dunia sastra yang selama ini ada,” terangnya.Dalam pengantarnya Aprinus Salam menilai, ada beragam eksperimentasi teknik yang ditunjukkan oleh pengarang. Keragaman teknik ini sepertinya digunakan pengarang untuk menyiasati tema cerita yang cenderung diulang-ulang oleh penulis lainnya, seperti tema percintaan.
“Kumpulan kisah ini menyuguhkan sejumlah kisah yang tidak biasa. Pembaca dapat menikmati keduanya; baik teknik maupun cerita yang dikisahkan,” ujar Aprinus.Menurut Aprinus, fenomena Lamsijan mengingatkan kepada kasus Florence Sihombing, mahasiswi Magister Kenotariatan UGM yang sempat ramai diperbincangkan di dunia maya termasuk media massa cetak dan elektronik. Sebab, dalam cerpen ini menceritakan etika dan norma-norma sosial bisa dievaluasi sekaligus dikritisi.
Kebebasan berekspresi seperti itu ternyata mampu memperbarui nilai-nilai serta etika yang telah ada di masyarakat. “Mungkin perlu Hari Gila Nasional, sehingga ada pembaharuan etika dan nilai-nilai sosial. Melalui cerpen inilah kita bisa menyampaikan aspirasi,” terang Aprinus.Ana Nadhya Abrar mengatakan, melalui cerpen nilai-nilai kemanusiaan bisa dibangkitkan kembali. Tulisan Asef dalam cerpennya ini menyuarakan suara manusia secara umum seperti masalah utang, cinta hingga BLT (Bantuan Langsung Tunai). “Cerpen ini sekaligus merangsang kita untuk mencari dan membaca sumber lainnya seperti Alquran,” tandas Abrar. (*/laz)