Bagi Murid yang Terlambat Sekolah
MAGELANG – Menghukum siswa yang melakukan kesalahan, hakekat hanya mengingatkan dan berharap ada perbaikan. Itu pula yang mendasari jajaran SMAN 4 Kota Magelang memberi hukuman bagi siswa yang terlambat masuk. Mereka tidak diberi sangsi fisik, seperti harus mengelilingi lapangan atau lainnya. Melainkan dikenakan sanksi menyirami tanaman di sekitar sekolah. Harapannya, para siswa sekolah yang beralamat di Jalan Panembahan Senopati Kelurahan Jurangombo Selatan tersebut lebih disiplin dan cinta lingkungan hidup. “Pemberian sanksi fisik menurut kami tidak efektif. Dengan kebijakan baru ini, selain membuat efek jera juga merangsang kesadaran para siswa untuk mencintai lingkungannya,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Sri Sugiarnisih, saat berdialog dengan Wali Kota Sigit Widyonindito dalam Program Sidak Sekolah, kemarin (15/9). Sri Sugiarnisih meneruskan, kebijakan tersebut dijalankan mengingat sekolah yang dipimpinnya tengah getol mengkampanyekan gerakan cinta lingkungan sekolah. Dari program yang dijalankan, tahun ini sekolah ini berhasil meraih penghargaan di bidang kebersihan. Yakni Piala Adiwiyata tingkat Jateng yang selanjutnya dilombakan ke tingkat nasional. Selain itu, para siswa setempat dilibatkan langsung mengelola lingkungan sekolah. Salah satunya gerakan Jumat bersih yang dilaksanakan mulai pukul 06.30 – 07.30. Kegiatan yang dilaksanakan adalah bersih kelas, memungut sampah, perawatan dan pengelolaan taman sekolah. “Yang kami lakukan untuk memberi pembelajaran para siswa, bagaimana agar lingkungan bersih dan hijau tetap terjaga dan terkelola dengan baik,” tegas perempuan yang pernah menjabat Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang tersebut. Wali Kota Sigit Widyonindito mengapresiasi langkah yang dijalankan pihak sekolah. Menurutnya, sanksi yang diberikan bisa membuat siswa menjadi ramah lingkungan dan terbiasa menjaganya. Dalam sidak, wali kota mendapati tigaguru dan seorang staf tata usaha (TU) beserta 14 siswa lain terlambat datang. Ia meminta guru yang terlambat tidak mengulangi hal yang sama. Karena profesi guru memiliki tanggung jawab yang besar pada anak didiknya. “Siswa yang telat disuruh menyirami tanaman. Kalau perlu guru yang terlambat juga diperlakukan sama. Atau bisa juga diberi sanksi membawa pot dan tanamannya ke sekolah. Ini kan maksudnya baik. Agar sekolah lebih hijau dan sejuk lagi,” pinta Sigit.(dem/hes)