MUNGKID – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Magelang rutin melakukan razia pada pelajar. Razia pelajar dilakukan dengan sasaran ke warnet, tempat wisata, pasar, tempat ngegame yang kerap dipilih pelajar untuk membolos sekolah dan lainnya.
Operasi tersebut, dilakukan Satpol pada waktu jam sekolah. Yaitu, antara pukul 09.00-14.00.
“Akan tetapi, kebetulan saat razia itu jarang menemukan siswa tawuran,” kata Kasatpol PP Kabupaten Magelang Sudjarno Senin (15/9).
Sudjarno melanjutkan, menyikapi aksi tawuran para pelajar, pihaknya melakukan pembinaan dan razia pelajar bersama instansi lain. Seperti dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Magelang dalam waktu dekat.
Selain Satpol PP, sebagai langkah pencegahan, Kepolisian juga sering melakukan koordinasi dengan sekolah- sekolah yang pelajarnya langganan tawuran. Selain itu, patroli strong point juga dilaksanakan di sekolah tersebut pada jam pulang sekolah.
“Patroli strong point sering juga dilakukan di beberapa titik rawan tawuran. Seperti di lapangan drh Soepardi, Sawitan, dan Terminal Muntilan,” kata Kabag Ops Polres Magelang Kompol Soedijarto.
Dijelaskan, empat kecamatan di Kabupaten Magelang memiliki angka tawuran pelajar paling banyak dibanding kecamatan lain. Ke-4 kecamatan tersebut adalah Salam, Muntilan, Borobudur, dan Mungkid.
Berdasarkan data di Polres Magelang, pelajar yang terlibat tawuran juga berasal dari sekolah-
sekolah tertentu.
“Saya sampai heran, tawuran pelajar cenderung terjadi dan dilakukan sekolah itu- itu saja. Justru mereka berasal dari sekolah yang berlatar belakang agama,” paparnya.
Dikatakan, tawuran sering terjadi pada jam- jam usai sekolah dan lebih banyak pada hari Jumat dan Sabtu. Meski kerap tertangkap, pelajar seakan tidak kapok dan kembali melakukan tawuran.
“Tindakan kami hanya sebatas melakukan pembinaan dan pemanggilan terhadap orangtua pelajar dan sekolah. Lalu yang bersangkutan harus buat surat pernyataan,” jelasnya.(ady/hes)