Buntut Kerusuhan Pada Laga Lawan Martapura FC
SLEMAN – PSS Sleman memang layak berpesta setelah mengalahkan Martapura FC 1-0 di Maguwoharjo International Stadium (MIS) Selasa malam (16/9) lalu. Pasalnya dengan kemenangan dalam lanjutan babak 16 besar Divisi Utama 2014 tersebut, membuka peluang mereka melaju ke babak delapan besar.Namun, kemenangan tersebut harus dibayar mahal oleh mana-jemen PSS. Sebab, dalam pertan-dingan melawan Martapura itu berakhir dengan kericuhan parah. Keributan dipicu oleh tindakan pemain Martapura yang sering melakukan protes berlebihan kepada wasit Dwi Purba.
Saat pertandingan berlangsung, penonton berulang kali melaku-kan pelemparan botol ke arah lapangan. Gas air mata yang di-lepaskan polisi saat laga sudah berakhir, memperparahchaos. Akhirnya ada beberapa supor-ter Super Elang Jawa (Super Elja) yang dibawa ke ruang P3K untuk mendapat perawatan medis.Berdasarkan regulasi kompeti-si, kericuhan dalam sebuah pertan-dingan, masuk dalam kategori pelanggaran. Yang sering men-jadi tertuduh adalah Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan. Biasanya Komisi Disiplin (Kom-dis) PSSI menyatakan panpel laga gagal menyelenggarakan pertandingan dengan baik.
Berkenaan dengan itu, hampir pasti huku-man denda bakal menim-pa Super Elja. Sebagai refe-rensi, di se-panjang mu-sim ini, Panpel PSS sudah tiga kali dijatuhi hukuman denda oleh Komdis PSSI. Yang terakhir, mereka harus membayarkan uang senilai Rp 35 juta, karena aksi pelemparan botol yang dilakukan suporter saat PSS menjamu Madiun Putra FC (MP-FC) pada babak penyisihan. Di tahun 2014 ini, (total) Panpel PSS sudah terkena denda sebesar Rp 85 juta akibat ulah suporter.
Direktur PT Putra Sleman Sem-bada (PT PSS) Supardjiono meng-akui, bahwa pertandingan mela-wan Martapura berakhir dengan cara yang kurang menyenangkan. Namun soal ancaman denda, Pardji mengaku enggan memikir-kannya. Sebab Komdis PSSI belum melakukan sidang.”Untuk membicarakan denda, saya nggak komentar banyak dulu. Biar nanti kalau Komdis sudah melakukan sidang, baru kita bicarakan,” jelas pria yang juga pengusaha kontraktor ini.
Pardji berharap Komdis PSSI bisa objektif dalam melihat keja-dian. Sebab menurut Pardji, ke-ricuhan terjadi setelah laga usai, dan bukan saat pertandingan masih berlangsung. Meski juga diakui bahwa ke-nyataannya para penonton be-berapa kali melakukan lemparan ke arah lapangan saat laga sedang berlangsung. “Kami berharap agar Komdis bisa melihat kejadian dengan jeli,” ujarnya.
Ditegaskan oleh Supardjiono, ke-rusuhan yang berlangsung kemarin, terjadi saat pertandingan selesai. “Sebelum menjatuhkan sanksi, sebaiknya masalah ini juga men-jadi bahan pertimbangan Komdis PSSI,” imbuhnya. (nes/jko/ty)