Warga Protes Proyek Jaringan Air Sia-Sia

SLEMAN – Droping air bersih dari Pemkab Sleman menuai protes. Warga di Kecamatan Prambanan yang mengalami kekeringan menilai distribusi air tidak dilakukan secara merata. Total, 100 tangki air bersih yang akan didistribusikan oleh pemkab ke 14 wilayah yang tersebar di lima desa, yakni Sambirejo, Wu-kirharjo, Gayamharjo, Sumber-harjo, dan Bokoharjo. Di sisi lain, jumlah tersebut jauh dari per-hitungan kebutuhan air di Pram-banan bagi 5.980 kepala keluarga. Pemkab Sleman membutuhkan sedikitnya seribu tangki air. Dro-ping mulai dilakukan sejak Senin (22/9). Sedangkan untuk me-menuhi kekurangan, pemkab mengandalkan pihak swasta.Warga juga mengeluhkan in-talasi jaringan air yang telah terpasang namun justru mubazir. Sebab, sejak dipasang, hanya satu kali diujicoba. Selanjutnya, proyek senilai Rp 1,3 miliar ter-sebut mangkrak. “Programnya bagus tetapi eksekusinya buruk,” sesal Anang Widiantoro, warga Gayamharjo kemarin (23/9).
Jaringan pipa besi yang tersebar di area pemukiman penduduk ibarat hanya menjadi tumpukan barang rongsokan. Sebagian berkarat dan keropos karena terkena hujan dan panas. “Saat uji coba, banyak sambungan yang bocor. Setelah direhab malah tidak pernah difungsikan. Seka-rang rusak,” bebernya.Suyatno, warga lain mengung-kapkan air di Prambanan saat ini ibarat barang anyep tetapi panas. Karena air, warga sering terlibat adu mulut karena saling berebut. Bagi yang tidak mau bersing-gungan dengan orang lain harus rela merogoh kocek antara Rp 100 ribu – Rp 120 ribu untuk mem-beli 1 tangki air. “Itu karena droping tidak merata,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito selalu mendorong warga Prambanan untuk mandiri dan agar tidak selalu bergantung kepada pe-merintah. Pemkab memfasili-tasi dengan instalasi jaringan air bersih. Julisetiono mengakui, proyek tersebut belum rampung. Ada tiga jaringan, namun satu di antaranya rusak dan saat ini ma-sih dalam tahap perbaikan. “Ka-lau soal belum merata, droping memang dilakukan bertahap. Sudah ada jadwalnya,” ujarnya. Julisetiono mengklaim, semua warga yang butuh air bakal mem-peroleh droping. Hanya, droping didistribusikan berdasarkan prio-ritas, sesuai hasil kesepakatan rapat dengan pihak desa dan kecamatan.Sebanyak 14 dusun yang men-jadi prioritas, antara lain; Dusun Jali, Gayam, Kalitengah Kidul, Ka-litengah Lor, Lemangbang dan Nawung (Gayamharjo); Klumprit I, Klumprit II dan Losari 2 (Wukir-harjo); Mlakan, Gunungcilik dan Gedang Atas (Sambirejo); serta Umbulsari A, dan Umbulsari B (Sumberharjo). (yog/din/ty)

Embung Solusi Atasi Kekeringan

Masalah kekeringan di Keca-matan Prambanan menjadi pembicaraan menarik di kalangan legislatif. Ketua Fraksi Golkar Prasetyo Budi Utomo, yang juga asal Prambanan justru mem-pertanyakan kebijakan pemerin-tah yang sejak lama seolah tidak pernah menjadi solusi meng-hadapi musibah kekeringan di wilayah perbatasan itu.”Harusnya dibuatkan embung. Saya kira lokasinya masih memungkinkan di Gayamharjo,” ungkapnya. Prasetyo mengaku setiap musim kemarau selalu melakukan droping air bersih secara mandiri. Berapa pun yang dia drop selalu kurang.
Pras, sapaan akrab Prasetyo, juga menyoal tentang tuntutan mandiri oleh pemerintah bagi warga di wilayah terdampak kekeringan. “Bagaimana mau mandiri, wong sarananya saja tidak dipenuhi. Pemkab saja masih mengandalkan swasta,” sindirnya.
Pras mengakui, droping air tidak bisa dilakukan secara se-rentak. Medan berat berliku dan tanjakan tajam tidak memung-kinkan truk pengankut air kuat seharian bolak-balik ke kawasan perbukitan batu hitam itu. Dari pantauan Pras, banyak truk ngglimpang karena sopir memaksakan mesin truk di tan-jakan terjal yang jalannya rusak banyak lubang. “Perbaiki dulu jalannya supaya droping lancar,” pintanya. Nur Hidayat, wakil rakyat yang juga dari daerah pemilihan Pram-banan menginisiasi penambahan anggaran droping air dan per-baikan instalasi jaringan pipa air. Setidaknya, alokasi anggaran dimasukkan pada pembahasan APBD 2015. “Akan saya kawal. Kekeringan itu selalu terjadi tiap tahun. Jadi, ya, tiap tahun pula harus dialokasikan dana untuk droping air,” ujarnya.
Selain itu, pemenuhan kebu-tuhan listrik juga menjadi prioritas. Sebab, salah satu instalasi jaringan air Pramba-nan tidak berfungsi optimal lantaran mesin masih dijalan-kan dengan bahan bakar solar. Warga keberatan harus mengelu-arkan biaya untuk bahan bakar. Listrik menjadi solusi terbaik untuk menghidupkan jaringan instalasi. (yog/din/ty)