WONOSARI – Menjaga rasa aman masyarakat saat penyem-belihan hewan kurban, Dinas Peternakan (Disnak) Gunungkidul membuka 13 posko pemantauan. Selain itu, juga disiapkan sebanyak 120 tim pemantau yang dibantu 40 mahasiswa dari Fakultas Kese-hatan Hewan UGM. “Kami juga akan bekerjasama dengan panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Gunungkidul untuk mengetahui lokasi mana saja yang akan melakukan penyem-belihan hewan kurban,” terang Kepala Disnak Gunungkidul Krisna Berlian, kemarin (3/10).Krisna menjelaskan Disnak Gunungkidul juga membuka posko di kantor untuk mengantisipasi masyarakat yang ingin meme-riksakan hewan kurbannya sebelum disembelih. Menurutnya ada sekitar 35 titik yang akan dipantau saat penyembelihan hewan kurban.
“Tahun lalu dari 2.896 ekor sapi yang disembelih, ada 69 ekor sapi yang mengidap penyakit cacing hati. Untuk jenis kambing tidak ditemukan penyakit hati,” jelasnya.Krisna menuturkan selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa kualitas rasa daging hewan kurban itu tidak enak. Bukan semata-mata karena jumlah porsi yang dimakan berlebih kemudian mempengaruhi cita rasa namun ada penyebab lain. Krisna mengatakan perlakuan sebelum penyembelihan hewan kurban yang tidak benar bisa mem-pengaruhi cita rasa daging kurban. Misalnya untuk sapi, pada saat disembelih terkadang menggunakan cara-cara kurang tepat.
“Kaki diikat kemudian dijatuhkan paksa dengan kasar. Itu mempenga-ruhi hormonal di dalam tubuh sapi, dampaknya mempengaruhi cita rasa daging,” kata Krisna.Krisna mengimbau kepada masyarakat pada saat menyembelih hewan kurban, khususnya sapi, restrain atau pengekangan hewan itu harus betul. Dengan begitu, ketika hendak disembelih dalam kondisi terkendali.
“Dalam hal ini, kami sudah memberikan pelatihan kepada takmir masjid mengenai cara-cara pengekangan hewan kurban dengan teknik-teknik yang insyaallah bisa menenangkan hewan kurban,” ujarnya.Krisna melanjutkan sebenarnya ada tips yang harus diperhatikan untuk hewan kurban baik sapi maupun kambing. Perlu diper-hatikan bahwa 12 jam sebelum disembelih, hewan tersebut harus puasa makan namun boleh diberi air minum. “Mengapa demikian? Karena mekanisme metabolisme dalam tubuh hewan ketika makanan yang dicerna tidak tuntas bisa mence-mari daging,” ujarnya. (gun/ila/rg)