JOGJA – Upacara peringatan ulang tahun ke-258 Kota Jogja kemarin (7/10) berlangsung meriah dan ken-tal dalam nuansa Jawa. Semua PNS di lingkungan Pemkot Jogja, karya-wan swasta serta siswa sekolah, selama sehari mengenakan buasa-na adat Jawa gaya Jogjakarta.Tidak hanya itu, nuansa Jogja juga tercermin dalam sambutan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) karena disampaikan dalam bahasa Jawa. Sam-butan itu dibacakan saat upacara apel pagi di lingkungan Pemkot Jogja
Wali Kota Haryadi Suyuti me-nyebutkan berbagai penghar-gaan yang diterima Kota Jogja selama 2014. “Sadangunipun wekdal ing warsa 2013-2014 menika, man-eka warni partisara sampun kagayuh saha dados cihna ma-karya ingkang golong gilig saiyeg saeka kapti, antawisipun Pe-merintah Kitha Ngayongyakar-ta kaliyan warga masyarakat,” ujar HS dalam sambutannya. Beberapa penghargaan yang diterima seperti Parasamya Purnakarya Nugraha untuk tata kelola pemerintahan, Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2014, opini wajar tanpa peng-ecualian (WTP), Indonesia Green Awards (IGA) 2014 serta Wa-hana Tata Nugraha untuk kate-gori angkutan. Menurut HS, penghargaan yang diterima Kota Jogja itu juga berkat kerja keras dari seluruh jajaran SKPD Pemkot Jogja dan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk mandiri, disiplin serta bersama-sama mewujudkan Jogja seba-gai kota yang aman, nyaman, tentrem, berbudaya serta ber-karakter.
Sementara itu Ketua DPRD Kota Jogja Sujanarko mengatakan, sebagai kota dengan luas kurang lebih 32,5 kilometer persegi, Jogja memang layak mendapat-kan sejumlah penghargaan. Te-tapi selain penghargaan atas kinerja pemerintahan itu, Koko sebagai anggota legislatif juga menyoroti tentang kondisi kota saat ini. Menurut dia, Jogja yang dulu dikatakan aman, nyaman, harus menjadi refleksi pemangku ke-bijakan. “Siapa pun pemangku kebijakan di Kota Jogja harus bisa mencerminkan nuansa kota yang khas. Jika tidak, lama-lama nuansa tersebut akan hilang,” terang Koko. Dirinya mencontohkan se-perti pembangunan hotel yang marak di Kota Jogja. Jika tidak dikelola dengan baik, dikhawa-tirkan masyarakat Kota Jogja akan berbondong-bondong keluar kota, karena lahannya dijual untuk pembangunan properti.

Pengunjung pun Turut Menorehkan Kuas

Gelar Maestro Rindu Jogja 2014 dalam rangka HUT 258 Kota Jogja berlangsung meriah. Kan-vas sepanjang 100 membentang di trotoar Malioboro kawasan Titik Nol Kilometer, Selasa ke-marin (7/10). Tidak hanya para seniman, pengunjung Malio-boro yang lewat pun turut me-norehkan kuas.Tampak pula dalam kesempa-tan ini, Kepala Dinas Kebuda yaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Jogja Eko Suryo. Meski ber-status sebagai penyelenggara, pria kelahiran Jogjakarta 1 Ok-tober 1959 ini tidak mau tinggal diam. Dirinya turut berpartisi-pasi dengan melukis dalam se-buah frame kanvas. “Saya senang dengan adanya acara ini dan pasti akan berlanjut ke depannya. Tidak hanya an-tarseniman, namun juga warga umum. Bahkan yang tidak me-miliki latar belakang seni bisa turut bergabung. Keguyuban ini yang patut dijaga,” katanya se usai melukis (7/10).
Koordinator pelukis W.M Hendrix menyambut positif Dis-budpar. Menurutnya dengan kerjasama ini maka akan mem-buka ruang yang selama ini ter-tutup, seniman dan birokrat pemerintahan dapat berjalan bersama.Bahkan dengan adanya kerja-sama ini akan semakin meman-tabkan Jogja sebagai kota seni dan budaya. Tidak hanya me-nguatkan kota, namun juga Daerah Istimewa Jogjakarta se-cara luas. Kegiatan ini pun dapat membuktikan bahwa seniman juga memiliki kepedulian ter-hadap kota Jogja.”Seniman pada dasarnya hidup secara independen. Namun dengan adanya inisiatif ini juga berpengaruh sangat positif. Me-rangsang kita untuk terus ber-karya dan mempercantik Jogja. Chemistry ini sudah seharusnya dijaga dan tidak hanya sebagai simbolis acara tapi berkelanju-tan,” katanya.
Gelar melukis bersama di kanvas sepanjang 100 meter ini diikuti ratusan pengunjung. Baik seniman maupun warga yang melintas turut meramaikan bentangan kain panjang ini. Selain itu ada 120 se-niman pelukis yang tersebar di berbagai titik Malioboro.Para pelukis ini merespons kondisi dan keadaan Malio-boro saat ini. Nama-nama se-niman senior seperti Suharto PR, Sunarto PR, Budi Ubrux, Yunizar dan beberapa seniman lainnya turut hadir. Nama Joko Pekik pun termasuk dalam se-niman ini.”Untuk Pak Pekik sedang ber-halangan, tapi dirinya menyam-but positif acara ini. Rencananya hari ini (kemarin, Red) beliau memang akan datang. Mungkin nanti kita akan datang ke stu-dionya agar kanvas ini bisa di-respons langsung,” kata Hendrix.

Pisowanan Ditemui Wagub PA IX

Puncak perayaan HUT ke-258 Kota Jogja tadi malam ditandai dengan pisowanan di pagelaran Keraton Jogja. Dalam pisowanan ini, Wali Kota Haryadi Suyuti melaporkan kondisi Kota Jogja untuk kemudian meminta petunjuk. Tapi dalam pisowanan kali ini tidak ditemui langsung Raja Ke-raton Jogja sekaligus Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Bu-wono X, karena sedang berada di Surabaya untuk pertemuan asosiasi gubernur. Sebagai ganti-nya ditemui Wagub Paku Alam IX. Pisowanan sendiri diikuti perwakilan dari pemerintah dan masyarakat. Dalam sabda pangendiko, Paku Alam IX mengatakan da-lam perayaan ulang tahun Kota Jogja ini sebagai momen untuk menuju paradigma pembangunan yang adil dan maju. Maka selanjutnya Pem-kot Jogja diminta memberikan perhatian dalam perumusan kebijakan, sehingga bisa mewu-judkan pemerintahan yang baik dan memajukan ekonomi ma-syarakat.
“Kebijakan yang diterapkan itu juga diselaraskan dengan aspirasi, potensi, dan sosiokul-tur masyarakat,” ujar Paku Alam IX dalam sambutannya yang menggunakan Bahasa Jawa. Se-lanjutnya Wagub juga meng-ingatkan pembangunan daerah harus ditindaklanjuti, dilaksana-kan seluruh masyarakat. Paku Alam IX juga mengapre-siasi tema perayaan ulang tahun Kota Jogja tahun ini, ‘Pesta Ra-kyat’. Menurutnya, tema tersebut sudah sesuai karena masyarakat juga bisa berperan aktif. Serta merasakan greget ulang tahun Kota Jogja tahun ini yang di-rayakan dengan guyub rukun, cancut taliwanda dan bentuk tresna ke Kota Jogja. “Peringatan kali ini dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyara-kat,” ujarnya.
Setelah Pisowanan, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) ber-sama rombongan berjalan kaki dari Pagelaran ke Titik Nol untuk menyaksikan pawai budaya. Koordinator HUT ke-258 Kota Jogja Aman Yuriadijaya menga-takan, pawai budaya diikuti se-kitar 6.000 peserta dari 45 kelu-rahan dan masyarakat di Kota Jogja. “Keterlibatan dan kontribusi masyarakat lebih penting, bukan gedenya pesta, bisa dilihat se-berapa beragamnya masyarakat yang ikut serta,” tutur Aman yang juga Asekda Bdang Pembangu-nan dan Perekonomian Kota Jogja ini. (pra/dwi/laz/gp)