GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JELANG TUNTUTAN: Frietqi Suryawan alias Demang saat bertemu dengan pengurus PWI DIJ kemarin.

PWI: Kasus Demang Bukan Pidana Biasa

JOGJA – Sidang perkara teror memakai bom molotov dengan sasaran rumah wartawan Radar Jogja yang bertugas di Magelang, Frietqi Suryawan alias Demang, bakal memasuki tahap penuntutan. Rencananya jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Magelang membacakan tuntutan pada sidang hari Rabu (15/10) besok.”Kami berharap JPU menuntut dengan hukuman maksimal. Kasus ini bukan perkara kriminal biasa,” ungkap Wakil Ketua PWI DIJ Hudono saat bertemu dengan Demang di kantor PWI DIJ, Jalan Gambiran, Jogja, kemarin (13/10)
Meski bertugas di wilayah Ma-gelang, Demang keanggotaannya tercatat di PWI DIJ. Selain Hudono, ikut menemui Demang adalah Ketua PWI DIJ Sihono Harto Taruno dan sekretaris Primas-wolo Sudjono.Dengan melihat kasus tersebut bukan perkara pidana biasa, penegak hukum diharapkan dapat menjerat tiga terdakwa dengan pasal berlapis. Selain pasal 187 KUHP tentang pem-bakaran, JPU dapat menerapkan pasal 18 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sebab, kejadian itu merupakan kekerasan ter-hadap wartawan. “Pasal itu tentang upaya menghalang-halangi kerja war-tawan dengan ancaman hukuman selama dua tahun dan denda Rp 500 juta. Kalau itu diterapkan, kita yakin akan ada efek jera,” tuturnya.
Senada, Ketua PWI Sihono menyatakan, kejadian yang di-alami Demang pada 25 Febru-ari 2014 dinihari pukul 02.00 merupakan bentuk teror terhadap wartawan. Kejadian itu tidak boleh dibiarkan karena akan mengancam kebebasan pers.”Kasus itu sangat terang bende-rang dipicu oleh pemberitaan. Kami berharap para pelaku di-tuntut seberat-beratnya. Jangan sampai tuntutannya malah ringan,” harap Sihono.
Karena itu, PWI menyerukan agar penegak hukum tidak hanya berhenti memproses ketiga pelaku yakni Chirul Naim, Heri Utama, dan Yordan semata. Namun mengembangkan pe-nyidikan perkara yang menyita perhatian masyarakat dengan mengungkap dalang atau aktor intelektual di balik kasus ter sebut. “Kami meyakini ada aktor intelek-tualnya. Itu yang harus ditangkap dan diungkap oleh polisi,” ujar-nya.Demang dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih terhadap jajaran kepolisian khu-susnya Polres Magelang Kota. Dengan kegigihan dan keuletan polisi, tiga bulan setelah keja-dian tepatnya 28 Mei 2014, tiga pelaku berhasil ditangkap. “Bagaimana pun itu keber-hasilan polisi yang harus dia-presiasi. Masyarakat tentu lebih bangga dengan polisi bila aktor di belakang kasus ini juga ber-hasil dibongkar sebagaimana seruan PWI DIJ,” ucap alumnus jurusan komunikasi Fisip UNS ini.
Dari persidangan yang selama ini berjalan, tiga terdakwa itu menolak didampingi penasihat hukum. Mereka juga enggan mengajukan saksi meringankan, meski telah diberikan kesem-patan oleh majelis hakim. Ber-dasarkan fakta di persidangan, ketiga terdakwa semula menga-ku ingin menganiaya Demang. Alasannya, mereka mengaku dendam dengan Demang. Me-reka berdalih gara-gara berita-berita yang ditulis Demang soal pembangunan Pasar Rejowinangun Magelang, mereka harus diber-hentikan dari pekerjaan sebagai tenaga keamanan.”Namun saat ditanya berita apa yang membuat mereka sakit hati, mereka mengaku tak tahu. Apalagi salah satu pelaku Heri Utama menyesal karena tidak tahu orang yang menjadi sasaran itu adalah saya. Ini kan penga-kuan aneh dan naif. Kalau dendam karena berita, kok nggak tahu beritanya yang mana,” ujar-nya.
Pria yang tinggal di Kampung Jagoan, Jurangombo Utara, Kota Magelang itu menyatakan, kejadian yang menimpanya bukan sebatas masalah pribadinya. Tapi kasus itu menyangkut pro-fesi dan kebebasan pers. Ia kha-watir bila tak dituntaskan di belakang hari kasus serupa bisa terulang dan menimpa wartawan lainnya. “Siapa pun yang berprofesi sebagai wartawan atau jurnalis, bisa terancam. Padahal sesuai pasal 8 UU Pers, wartawan men-dapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan profesinya,” paparnya. Rencannya setelah dari PWI DIJ, Demang akan ber-silaturahmi dengan pengurus Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jogja. (eri/laz/jiong)