YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA

RESMITERSANGKA: Sebanyak 12 pelajar saat ditangkap jajaran Polres Sleman, (14/10).Ada empat pelajar yang statusnya masih saksi.

SETELAH menjalani pemeriksaan intensif sejak Senin (13/10) malam, akhirnya 12 cah klithih ditetapkan sebagai tersangka pengroyokan terhadap Dimas Afrizal Mustofa,15, seorang siswa SMK di Seyegan
Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin mengatakan, 12 pelajar tersebut resmi ditetapkan seba-gai tersangka sejak kemarin (15/10. “Secara keseluruhan, 12 pelajar sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” ujarnya. Sedangkan untuk 4 pelajar lain-nya, masih sebagai saksi keja-dian. Status saksi, juga tergantung dari pendalaman pemeriksaan terhadap 12 tersangka.”Tergantung dari hasil penda-laman penyidikan. Bisa saja para saksi berubah jadi tersang-ka,” tandas Ihsan saat dikonfir-masi, kemarin (15/10).
Kapolres menegaskan, kena-kalan pelajar saat ini sudah memprihatinkan. Sehingga, ra-zia terhadap pelajar tidak lagi masuk kategori sebagai kenaka-lan remaja biasa. “Jika melihat dari barang buk-ti yang diamankan, kenakalan mereka ini sudah sangat mem-bahayakan nyawa orang lain. Ini sudah sangat sulit untuk di-maklumi,” tegasnya.
Disinggung adanya perilaku mereka terpengaruh oleh kabar geng Raden Kian Santang (RKS), Kapolres menuturkan bahwa perilaku mereka tak lepas dari efek globalisasi. Berkenaan dengan itu, yang di fokuskan kepilisian, adalah ba-gaimana pola pendidikan kelu-arga dan lingkungan agar pela-jar ini tidak melakukan perilaku yang melanggar hukum.
“Selama ini, yang kami tanga-ni, bukan lagi kenakalan biasa, tapi sudah mengarah pada pe-rilaku yang membahayakan orang lain,” tandasnya. Terpisah, Psikolog UNY Prof Dr Farida Hanum menilai, usia remaja adalah masa krisis ek-sistensi. Mereka tak mau disebut anak-anak. Tapi secara fisik dan pemikiran, bukan pula orang dewasa.
Kondisi itu yang kerap mem-pengaruhi remaja untuk berbuat hal-hal negatif sebagai pelam-piasan. “Sebenarnya remaja itu dilanda keresahan. Tapi tidak ada sarana pelampiasan,” ungkapnya, kemarin (15/10).
Karena itu, penanganan aksi brutal oleh para remaja ini men-jadi tanggung jawab semua pihak. Terutama keluarga. “Latar bela-kang keluarga sangat berpenga-ruh pada perkembangan re-maja yang cenderung berhasrat untuk mencoba banyak hal. Ter-masuk tindakan-tindakan anar-kisme atau dilarang oleh norma. Misalnya, merokok, minum mi-numan beralkohol, hingga men-gonsumsi narkoba,” tuturnya.
Ida berpendapat, munculnya geng-geng remaja sebagai dam-pak pelampiasan luapan energi pada remaja yang tak tersalurkan secara benar. Pada dasarnya, saat merasa tak nyaman di rumah, mereka hanya butuh pelarian. Nah, dalam klik (kelompok) ke-cil itulah, remaja lantas merasakan kenyamanan. Sebab, satu sama lain memiliki perasaan senada, yang cenderung anti sosial. “Mis-al merokok biar dibilang macho dan keren. Lama-lama ya ketagihan,” ucap aktivis perempuan yang akrab disapa Bu Ida ini.
Dengan begitu, keluarga ber-peran penting untuk mengara-hkan anak pada kelompok yang positif. Selain itu, pemerintah juga wajib menciptakan sarana penunjangnya. Sehingga, bakat dan kemampuan anak tersalur sesuai hobi masing-masing. Dikatakan, anak putus sekolah tidak selalu melampiaskan ke-tidaknyamanan dengan cara yang keliru. Karena itulah, perlu di-ciptakan lingkungan yang sehat dan baik dengan fasilitas me-madai untuk menampung en-ergi remaja yang liar. “Sebenar-nya mereka itu korban. Aksi-aksi negatif itu ekses dari luapan energi yang tak tersalurkan,” tandas guru besar Fakultas Ilmu Sosial itu.
Ida berharap pemerintah bisa membaca situasi itu untuk me-nampung dan mengembangkan potensi remaja. Program eko-nomi kreatif, misalnya. “Pemerin-tah perlu membuat pelatihan bagi remaja. Atau mengoptimal-kan sarana yang ada,” ujarnya. Ida menilai, saat ini, fasilitas yang dimiliki pemerintah belum optimal dalam menampung luapan en-ergi remaja. “Program kepemu-daan sangat kurang. Ini harus jadi perhatian serius pemerintah,” pungkasnya. (fid/yog/jko/ong)