SETIYAKI/RADAR JOGJA

RUWATAN POLITIK: Aksi ruwatan “sengkuni” politik oleh anggota Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi (Pametri) di Tugu Pal Putih Kota Jogja, kemarin (16/10).

Pametri Lakukan Ruwatan di Tugu dan Kediaman Amien

SLEMAN – Mantan Ketua MPR RI HM Amien Rais disebut-sebut sebagai tokoh paling bertanggung jawab atas munculnya kubu Koa-lisi Merah Putih. Koalisi itu disebut tak pro rakyat. Amien pun diang-gap telah mengkhianati rakyat. Sebagai tokoh reformasi, Amien dituding telah menyimpang dari khitoh reformasi yang dibangun-nya sendiri pada 1998.
Atas dasar itu, belasan orang yang menamakan diri Paguyuban Ma-syarakat Pelestari Tradisi (Pame-tri) menggelar acara ruwatan di depan rumah ketua MPP DPP PAN itu di Dusun Pandeansari, Con-dongcatur, Depok, Sleman, kema-rin (16/10). Agus Sunandar, koor-dinator aksi, menyebut Amien sebagai “Sengkuni” politik.
Tak cukup meruwat di rumah Amien Rais, Pametri juga meng-gelar wayangan di Tugu Pal Putih Kota Jogja sebagai bagian dari acara ruwatan. Selanjutnya, uba-rampe ruawatan dilabuh di Sung-ai Code di bawah Jembatan Gondo-layu. Sesaji yang dilabuh berupa ayam hitam, dupa, dan bunga se-taman. Dalam aksi paradoks itu, Amien Rais dilambangkan dalam ujud ayam hitam dan putih.
Rombongan peruwat yang mengenakan pakaian adat Jawa tersebut berjalan dari gang masuk ke rumah Amien Rais sambil me-lantunkan tembang Lir-Ilir. Se-sampai di depan rumah Amien, salah seorang peruwat mengelu-arkan ayam hitam dari sebuah kurungan yang ditutup kain. Ayam dikeluarkan untuk dipotong sebagian bulunya, lalu dimasuk-kan kembali ke dalam kurungan untuk dimandikan dengan air kembang setaman. Selanjutnya, peruwat mengeluarkan ayam berwarna putih.
“Ayam hitam melambangkan kesialan Amien Rais. Setelah di-sucikan, keluar dalam wujud ayam putih,” ujar Mbah Sukir, pemimpin acara ruwatan.
Agus Sunandar mengatakan, ruwatan digelar untuk mendoakan Amien Rais agar kembali ke jalan yang “benar”, sesuai dengan hati nurani rakyat. “Supaya Pak Amien itu sadar,” tegasnya. Ruwatan juga ditujukan sebagai metafora untuk menggugat keti-dakadilan yang dilakukan para pemimpin bangsa kepada rakyat Indonesia. Agus menyebut Amien sebagai “Sengkuni” politik, seba-gai penggambaran seorang tokoh pewayangan yang dikenal licik dan suka menghasut prajurit Kurawa agar memerangi para punggawa Pandawa.
“Seperti Pak Amien yang dulu dianggap sebagai pembela rakyat, sekarang menjadi pembela kepen-tingan,” lanjutnya. Selama acara digelar, tak seorang pun keluar dari rumah pendiri PAN itu. (yog/fid/jko/ong)