FRANSISKA ANGGRAENI/RADAR JOGJA

BEDAH BUKU: Para pemateri dalam bedah buku karya Gatot S. Dewa Broto berjudul The PR 2: Profesi Penuh Tantangan Tapi Bisa Dinikmati, di Auditorium FISIP Universitas Atma Jaya Jogja, kemarin (16/10).

JOGJA – Di era digitalisasi saat ini, seorang public relations atau kehumasan (PR) dituntut bisa berpikir cerdas, cepat merespons, dan dapat mengendalikan situasi. Sebab, tantangan yang dihadapi profesi PR kian kompleks, seperti adanya indikasi keterlibatan negara asing, UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), digitalisasi media dan komersialisasi media
Mantan Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo RI Gatot S. Dewa Broto mengatakan, buku The PR2 karyanya lebih banyak membahas mengenai potensi Indonesia di mata investor asing, terutama di bidang teknologi informasi. Sebab, jumlah penduduk cukup banyak, sehingga sangat potensial dijadikan pasar bagi industri telekomunikasi.
“Ketika pemerintah bermaksud meregulasi bagi industri dalam negeri, reaksi asing pun muncul,” kata Gatot dalam diskusi PR bertema profesi penuh tantangan tapi bisa dinikmati di Audi-torium FISIP Universitas Atma Jaya Jogja, kemarin.
Selain membahas pelaksanaan UU Keterbukaan Informasi Publik, buku karya Gatot dengan tebal 561 halaman ini menjadi pedoman praktis bagi PR. Dalam buku ini membahas berbagai kegamangan yang kerap dialami seorang PR, terutama bagi PR yang bekerja di institusi publik/pemerintah. Untuk memudahkan PR, Gatot juga menyu-guhkan kiat dan strategi kehumasan dalam menghadapi isu aktual. “Buku ini menjadi panduan praktis dan efektif bagi praktisi kehumasan, karena tetap mengutamakan fungsi humas. Fungsi humas di antaranya mengembangkan jaringan secara vertikal dan horizontal serta memetakan persoalan,” terang Gatot. (mar/mg1/jko/ong)