Polda Serahkan Tersangka dan Barang Bukti ke Kejati

JOGJA – Setelah berkas dinyatakan lengkap atau P21, tim penyidik Polda DIJ kemarin menyerahkan tersangka Florence Sihombing kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ. Proses penyerahan tersangka yang diikuti pelimpahan barang bukti (tahap 2) ini berjalan lancar. Tim penyidik Polda DIJ datang ke kejati sekitar pukul 11.30 dengan Flo yang dibawa dengan mobil operasional Polda.
Tim penasihat hukum Flo dari Fakultas Hukum UGM pun ikut mendampingi mahasiswa S2 asal Medan itu. “Barang bukti yang diserahkan penyi-dik ke kejaksaan yaitu handphone Iphone dan scan capture status akun Florence yang ada di path pribadinya,” ujar Kasi Penkum Kejati DIJ Purwanta Sudarmaji SH kemarin.
Dalam perkara ini, kejaksaan memutuskan tidak melakukan penahanan terhadap mahasiswi Magister Kenotariatan UGM itu. Alasannya, penyidik berkeyakinan tersangka Florence tidak akan melarikan diri, mengulangi perbuatan serupa, maupun menghilangkan barang bukti. “Penyidik memiliki alasan subjektif, yaitu tersangka tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti,” tambah Purwanta.
Usai pelimpahan tersangka dan barang bukti, dalam waktu dekat jaksa akan menyusun rencana dakwaan (rendak) dan mendaftarkan perkara ini ke PN Jogja. Berdasarkan pengalaman perkara lain, proses persidangan dilakukan satu pekan setelah tahap dua atau penyerahan tersangka dan barang bukti dari penyidik. “Secepatnya akan didaftarkan ke pengadilan, agar bisa disidangkan,” jelas Purwanta.
Kepada wartawan, Flo mengaku siap mengikuti proses hukum berikutnya. Sebagai warga negara yang taat hukum, dirinya akan mengikuti seluruh rang-kaian persidangan. “Saya siap mengikuti persidangan,” kata Flo.Flo dijerat pasal 27 dan 28 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) No 11 Tahun 2008. Akibat kicauannya di Path, dia diduga telah menyebabkan timbulnya kebencian dan permusuhan kelompok masyarakat.
Flo terjerat perkara hukum berawal dari kekesalannya saat membeli bensin di SPBU Lempuyangan, 28 September lalu. Dia bermaksud membeli Pertamax, namun tak mau mengantre dari belakang, hingga mendapat teguran dari konsumen lain. Itu menimbulkan kekecewaan yang lantas ditumpahkannya di akun Path. Di akun pribadinya, Flo menulis status yang isinya mengumpat dan menyebut masya-rakat Jogjakarta dengan kata-kata yang dianggap kurang sopan. Status itu pun menyebar ke banyak media sosial lain, sehingga menjadi konsumsi publik.
Akibat tindakannya itu, sejumlah elemen masyarakat melaporkan Florence ke Polda DIJ. Hingga pada Sabtu (30/8), Flo ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan Flo sempat ditahan, meski akhirnya ditangguhkan hingga kemarin. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIJ Kombes Pol Kokot Indarto menyatakan, penahanan Florence ka-rena tersangka dinilai tak kooperatif dan tidak memiliki itikad baik selama pemeriksaan. Florence juga menolak tanda tangan BAP. (mar/laz/ong)