ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
SEPAKAT: Warga Desa Sengi, Dukun melakukan aksi penolakan terhadap praktik penambangan dengan alat berat di saluran irigasi.
MUNGKID – Persoalan penambangan di lereng Merapi belum juga usai. Kembali, 100 orang warga Desa Sengi, Dukun men-duduki kantor balai desa setempat. Mereka menuntut penambangan galian golongan C yang menggunakan alat berat tidak mengganggu saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian.
Masa yang mayoritas petani khawatir, jika wilayah irigasi pertanian ikut ditambang, tidak ada air yang mengalir ke lahan pertanian. Massa datang ke kantor balai desa pukul 09.00. Beberapa poster bertuliskan tuntutan dibawa dan dipasang di depan kantor kepala desa. Beberapa tulisan itu, di antaranya berbunyi “Kami Butuh Air U/ Sawah Kami”, “Irigasi Punting Adalah Nyawa Kami”, “Mohon Pada Promer Hidupkan Irigasi Punting” dan lainya.
Aksi warga di halaman kantor kepala Desa Sengi bersamaan pertemuan dan pe maparan rencana pembangunan irigasi punting yang dihadiri beberapa elemen masyarakat. Seperti Camat Dukun Sukamtono, Pelaksana Teknis Pejabat Pembuat Komitmen Pengendalian Lahar Gunung Merapi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Heri Priyanto, dan Kasi Irigasi DPU dan ESDM Kabupaten Magelang Santoso.
Warga meminta pembangunan sabo dam dan saluran irigasi Punting (Sengi) di-realisasikan agar masyarakat bisa bercocok tanam. Sejak erupsi Gunung Merapi pada 2010, warga Sengi tidak bisa bercocok tanam padi, karena saluran irigasi Punting rusak. “Kami minta rencana pembangunan irigasi di Desa Sengi tetap berjalan.
Aktivitas penambangan jangan sampai mengganggu jalanya pembangunan irigasi,” pinta Koordinator Aksi Heru Sutopo, kemarin (23/10).Ia menjelaskan, pascaerupsi Merapi sebanyak 219 hektare lahan pertanian di Desa Sengi tidak bisa ditanami padi. Karena saluran irigasi Punting putus sepanjang 400 meter. Secara keseuluruhan, ada 10 dusun di dua desa yang memanfaatkan irigasi ini.
“Saluran irigasi ini kurang lebih ada 3 ribu orang yang memanfaatkan. Petani mem-butuhkan air,” jelasnya. Ketua BPD Sengi Purnomo menjelaskan, bagi warga Sengi pembangunan irigasi Punting adalah harga mati. Karena, itu satu-satunya saluran yang bisa mengairi lahan sawah di Desa Sengi.
Serta beberapa lahan pertanian di desa di bawahnya. Menanggapi itu, Pelaksana Teknis Pejabat Pembuat Komitmen Pengendalian Lahar Gunung Merapi BBWSO Heri Priyanto mengatakan, pembangunan sabo dam dan irigasi Punting di Sungai Pabelan dilaksanakan pada 2015. Nilai anggarannya Rp 9 miliar. (ady/hes/ong)