YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
PENTING: Kepala sekolah dan guru BK dari SMP, SMA, dan SMK se-Sleman mendapatkan pengarahan kemarin (23/10).

Perluas Jaringan dan Tambah Kegiatan Siswa di Luar Sekolah

Maraknya aksi klithih oleh anak usia sekolah membuat prihatin semua pihak. Karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk menghentikannya.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
BUPATI Sleman Sri Purnomo (SP) prihatin atas maraknya yang menghiasi headline me-dia massa sejak awal Oktober. Guna mencegah aksi klithih makin merebak, bupati dan Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin menginisiasi pertemuan dengan para kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling, dan Kapolsek se-Kabupaten Sleman kemarin (23/10).
SP menginstruksikan seluruh kepala sekolah dan guru BK agar lebih aktif dalam pengawasan anak didik. “Bukan hanya saat jam sekolah. Tetapi juga di luar itu,” tegasnya.SP juga meminta para kepala sekolah dan guru BK memper-luas jaringan informasi untuk memantau anak didik diluar jam sekolah.
Pihak sekolah juga ha-rus aktif berkomunikasi dengan para orang tua siswa. Setiap in-formasi mengenai ulah siswa yang cenderung negatif harus segera disampaikan kepada orang tua siswa bersangkutan. Dengan begitu, pencegahan bisa diminimalisasi dari kelu-arga. “Guru jangan mudah terkecoh dengan keaktifan siswa dalam organisasi atau prestasi.
Semua anak didik tidak boleh lepas dari pengawasan dan pantauan secara intensif,” pinta SP.SP menyadari, kenakalan re-maja bisa berawal dari minum-minuman beralkohol. Karena itu, SP meminta semua pihak aktif mengawasi perdaganan dan peredaran minuman beralkohol. “Jika ada yang tahu peredaran minumah beralkohol, tolong segera lapor ke aparat agar se-gera ditertibkan,” katanya.
Efek negatif telepon seluler juga menjadi perhatian serius SP. Orang nomor satu di Sleman itu khawatir, gajet yang makin modern justeru disalahgunakan oleh anak yang justru bisa menimbulkan dampak mudarat. Pihak sekolah diimbau agar mengkaji kemanfaatan telepon seluler bagi siswa, khususnya yang dibawa saat jam sekolah. Penggunaan telepon seluler juga harus dipantau.
SP meminta para guru mengedukasi siswa dalam penggu-naan gajet agar digunakan se-cara sehat dan bertanggungjawab.Ihsan Amin menegaskan ba-hwa setiap anak yang memiliki track record buruk di kepoli-sian bakal dipertimbangkan untuk memperoleh Surat Ke-terangan Catatan Kepolisian (SKCK).
Artinya, siswa bersangkutan bisa kesulitan menempuh strata lebih tinggi yang membutuhkan syarat SKCK. “Kami tak segan menindak hukum setiap kenakalan remaja meski berstatus pelajar,” tegasnya. Guna meminimalisasi dampak negatif kenakalan remaja, Ihsan meminta pihak sekolah supaya menambah kesibukan siswa di luar jam sekolah.
Salah satunya memberi pekerjaan rumah (PR). Khususnya, saat libur akhir pekan. Ihsan optimistis, langkah itu ampuh untuk menekan kena-kalan remaja yang bisa berujung aksi kriminal.
“PR itu untuk menyibukkan siswa di luar jam sekolah. minimnya kesibukan bisa memicu siwa cari kesibukan yang justru mengarah pada kenakalan,” paparnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdik-pora) Sleman Arif Haryono menindaklanjuti instruksi bu-pati dan kapolres dengan menginstruksikan kepala sekolah SMP dan SMA/SMK se Sleman untuk menyusun program pendampingan guru pada siswa. “Semua guru harus terlibat. Satu guru mengampu beberapa siswa,” jelasnya. (*/din/ong)