Tak Ditahan, Minta Segera Disidangkan

JOGJA – Pengusutan dugaan korupsi penjualan aset tanah milik UGM memasuki babak baru. Kemarin (23/10), tim penyidik Kejati DIJ menyerahkan empat tersangka ke jaksa penuntut umum (JPU) di Kejaksaan Negeri ( Kejari) Bantul. Empat tersangka itu adalah Prof Dr Susamto yang kini menjabat sebagai ketua Majelis Guru Besar UGM, Triyanto (wakil dekan III Fakultas Pertanian Bidang Ke-uangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia), serta Ken Suratiyah dan Toekidjo. Keduanya dosen Fakul-tas Pertanian.
Sebelum diserahkan (tahap 2), keempat tersangka diminta datang ke kejati untuk proses administrasi pelimpahan. Setelah berkas pe-limpahan siap, tim penyidik dan tersangka langsung menuju Ke-jari Bantul. Proses pelimpahan tahap 2 dugaan korupsi UGM ini berbeda dengan penanganan korupsi lain yang pernah di tangani kejati.
Keempat tersangka ini tidak di-angkut dengan kendaraan dinas kejaksaan. Tetapi, mereka meng-gunakan kendaraan pribadi masing-masing. Triyanto berangkat menuju ke Kejari Bantul bersama pengacaranya Augustinus Hutajulu SH. Sementara tiga tersangka lain, yakni Susamto, Toekidjo, dan Ken Suratiyah berada di kendaraan yang sama.
Penanganan berbeda terjadi ketika kejati melimpahkan ter-sangka dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) RSUD Jogja dan dugaan korupsi BOK bus TransJogja beberapa waktu lalu. Waktu itu, para tersangka langsung ditahan dan dijebloskan ke LP Wirogunan Jogja sesaat sebelum dilakukan penyerahan (tahap 2) ke jaksa penuntut. Saat akan dilakukan pelimpahan pun, mereka diangkut menggunakan kendaraan dinas kejaksaan.
Dari pantauan Radar Jogja, pelimpahan tahap 2 dugaan korupsi UGM ke Kejari Bantul belangsung cukup lama. Menurut informasi, itu karena ada tarik ulur dan per-debatan antara penyidik Kejati DIJ dengan penasihat hukum ter-sangka dan jaksa penuntut dari Kejari Bantul. Perdebatan itu me-ngenai apakah keempat tersangka akan ditahan atau tidak.
“Para tersangka tidak ditahan.Ada jaminan dari dekan Fakultas Pertanian UGM dan rektor UGM. Perlu diketahui, bahwa melakukan penahanan atau tidak menahan adalah kewenangan jaksa penuntut. Yang jelas, penyidik dan jaksa memiliki alasan subjektif dan objektif ketika akan melakukan penahanan atau tidak melakukan penahanan,” tandas Kasi Penkum Kejati DIJ Purwanta Sudarmaji SH kemarin.
Selain tersangka, penyidik juga menyerahkan barang bukti ke-pada jaksa penuntut. Barang bukti itu berupa dokumen yang disita penyidik dari tangan para tersangka, Yayasan Fapertagama, UGM, dan kelurahan Bangun-tapan. “Semua barang bukti sudah diserahkan,” jelas jaksa asal Imogiri ini.
Penasihat hukum para ter sangka,Augustinus Hutajulu SH, me-minta perkara ini segera didaf-tarkan ke pengadilan dan di-sidangkan. Ini, supaya perkara yang menjerat kliennya dapat diketahui kebenarannya. “Jangan ditunda-tunda, segera disidang-kan agar terang benderang,” kata Hutajulu.
Disinggung soal status tahanan kliennya, Hutajulu mengatakan, telah mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya, kliennya masih berstatus sebagai dosen dan menjalankan aktivitas menga-jar di UGM.
“Kami pastikan tersangka tidak akan melarikan diri, mengulangi perbuatan serupa, dan meng-hilangkan barang bukti. Sebab, klien kami sudah dicekal dan semua barang bukti sudah disita penyidik,” janji Hutajulu. (mar/abd/ong)