WONOSARI – Kasus pornografi tengah menjadi perbincangan hangat warga Gunungkidul. Setelah pelaku video cabul yang melibatkan siswi SMP teriden-tifikasi, kini muncul kasus serupa dengan pelaku berbeda. Kali ini, beredar foto-foto porno yang dikenali sebagai salah satu pelajar sekolah kejuruan.
Seperti diketahui, pada 22 Oktober lalu video cabul siswi SMP Karangmojo yang masih mengenakan seragam sekolah beredar di Youtube. Setelah dilakukan penyelidikan, Polsek Ka-rangmojo berhasil mengidenti-fikasi kedua pelaku.
Kapolsek Karangmojo Kompol Saman mengatakan penyelidikan adegan cabul oleh dua remaja terus berlanjut. Saman meng-ungkapkan untuk pemeran pe-rempuan berinisial AD, seorang siswi SMP di Karangmojo dan pemeran pria berinisial AR berusia 17 tahun.
“Kedua pelaku juga berasal dari satu kecamatan, namun beda desa,” kata Saman, kemarin (31/10).
Saman menjelaskan dari kete-rangan pelaku diketahui adegan tersebut direkam pada Agustus lalu. Adapun lokasi perekaman terjadi di hutan kayu putih di Ngawis, Karangmojo.
Diduga, karena hubungan keduanya me-renggang maka adegan tersebut diunggah ke dunia maya.
“Status mereka saat itu adalah berpacaran, namun karena sesuatu hal maka diunggah ke Youtube,” terangnya.
Namun demikian, meski telah mengantongi nama pelaku langkah hukum belum akan dilaksanakan. Sebab, penyelesaian dengan cara kekeluargaan masih dike-depankan. Ini bertujuan mem-berikan kesempatan kepada pelaku untuk melanjutkan sekolah.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan camat, pihak sekolah dan keluarga. Kami sepakat akan tetap melindungi kedua pelaku,” terangnya.
Meski demikian, Saman mene-gaskan, penyebar video (AR) dapat dikenakan Undang-Undang No 44/2008 tentang Pornografi. Dalam Pasal 29 dijelaskan pelaku penye-baran bisa dikenakan ancaman penjara 12 tahun kurungan.
“Tapi pelaku masih remaja, jadi unsur psikologis mereka tetap harus kami perhatikan. Sampai saat ini, langkah hukum belum akan ditempuh,” kata Saman.
Di bagian lain, kasus foto bugil beredar melalui sosial media kemarin. Foto-foto tersebut di-kenali sebagai salah satu siswi berinisial NR, pelajar sekolah ke-juruan di Wonosari.
“Semula saya tidak percaya, namun setelah saya perhatikan memang dia (NR),” ucap teman sekolah NR.
Munculnya kasus mesum secara bertubi-tubi ini sangat disesalkan. Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdik-pora) Kabupaten Gunungkidul Bahron Rosyid mengaku prihatin, namun tidak mau menyalahkan secara sepihak.
“Dalam pendidikan ada tiga pilar yakni masyarakat, keluarga dan pemerintah. Kondisi masyarakat dan lingkungan mempengaruhi pergaulan pelajar. Kasus ini men-jadi tanggung jawab bersama,” ujarnya. (gun/ila/ong)