HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
MASIH DIGEMARI: Penampilan peserta Festival Ketoprak di Pendopo Tamansiswa Jogja, kemarin. Gegap gempitan dalam festival ini, membuktikan ketoprak masih digemari warga.
JOGJA – Ketoprak tak lagi identik dengan orang tua. Kesenian khas Jawa ini juga memiliki penggemar dari kalangan muda. Tak hanya menonton, banyak anak muda Jogja yang tertarik main ketoprak. Hal itu seperti yang terlihat selama Festival Ketoprak antarke-camatan di Pendopo Tamansiswa Jogja.
Ya, pascadiundangkannya UU No 13/2012 tentang Kesitimewaan DIJ, dan adanya dana keistimewaan (Danais), membawa berkah kesenian di Jogja, tak terkecuali ketoprak Seperti yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja, yang baru saja menggelar Festival Ketoprak antarkecamatan se-Kota Jogja, yang memanfaatkan anggaran dana keistimewaan (danais).
Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Seni dan Cagar Budaya Disparbud Kota Jogja Su-parna mengatakan, Festival Ketoprak digelar setiap dua tahun sekali, bergantian dengan wa-yang orang.Dalam festival tersebut, 14 kecamatan di Kota Jogja semuanya mengirimkan kelompok ketoprak. Setiap kelompok, mendapatkan subsidi Rp 17 juta. Dengan pengalokasian dana tersebut, ternyata mampu membangkitkan semangat warga masyarakat untuk lebih menghidupkan kesenian ketoprak.
Dalam festifal kali ini, masing-masing kelompok diberi waktu bermain selama 60-75 menit dengan ide cerita bebas. “Sudah difasilitasi tempat, ada subsidi, jika perlu bila capek dipijiti,” kelakar Suparna.
Praktisi Ketoprak Jogja Nano Asmorondono mengatakan, ketoprak masih diminati di Jogja. Tidak hanya di 14 keca-matan, 45 kelurahan di Kota Jogja juga hampir semuanya memiliki kelompok ketoprak. Peminatnya, mulai dari orang tua hingga anak muda. Nano mengatakan, saat ini banyak anak muda yang senang ketoprak, meski belum mengerti dasar bermain ketoprak. “Tapi bagi saya, yang penting anak muda ini sudah seneng dulu, cinta dulu dengan ketoprak,” ujar Nano.
Untuk membuat anak muda seneng ketopark, memang penuh tantangan. Karena harus keluar dari pakem, pada hal para senior, biasanya menghendaki ketoprak sesuai pakem. “Kadang ada gesekan antara orang tua yang beranggapan ketoprak harus sesuai pakem itu,” ujarnya.
Namun demi ketoprak itu sendiri, Nano sudah mengolaborasikan antara pakem dengan gaya modern agar ketoprak ini disenangi kawula muda. “Saya memakluminya, sehingga sering memainkan ketoprak dengan menggunakan bahasa komunikatif yang bisa diterima anak muda,” katanya.
Tak hanya itu, ada kalanya ke-toprak dimainkan dengan lagu pop atau dangdut. “Kalau mengenai kemampuan dalam seni peran, rata-rata sudah memi-liki kemampuan seperti bermain teater. Teater Jawa,” tandasnya .
Nano juga memiliki pengalaman paling berkesan saat melatih wartawan. Menurutnya, itu terjadi pada tahun 2007 lalu. Yang membuatnya tidak akan pernah melupakan saat itu, dimana saat latihan, tiba-tiba para wartawan bubar semua.
Itu terjadi, saat Presiden Soeharto mulai sakit keras, dimana tiba-tiba latihan ketoprak bagi wartawan itu bubar, dan memaksa rencana pentasnya diundur dari yang sudah dijadwalkan.
“Karena pemain ketopraknya adalah para wartawan, sehingga jika ada berita penting, ilang kabeh (pergi semua), latihannya bubar tiba-tiba,” kenangnya.(pra/jko/ong)